Spanduk-Baliho Mulai Ditinggalkan, Caleg Muda Banjarmasin Pilih Promosi lewat Medsos

BANJARTIMES– Banyak cara dilakukan calon legislatif (caleg) di Banjarmasin untuk merebut suara hati publik. Beragam strategi kampanye pun ditempuh, mulai dari memasang alat peraga kampanye (APK) konvensional berupa spanduk dan baliho hingga saat ini merembet ke media sosial.

Kemahiran menggunakan medsos sebagai alat kampanye terlihat dari caleg-caleg muda yang tergerak mencoba peruntungan karirnya di bidang politik.

Ambil contoh, Hafidl Maulana. Caleg untuk daerah pemilihan Banjarmasin Barat itu melihat peluang akan meluasnya promosi diri melalui media digital saat ini. Prioritas utama untuk mengoptimalkan kampanyenya adalah melalui media sosial dan blusukan langsung berjumpa masyarakat.

“Dengan cara yang saya lakukan, cost yang dikeluarkan lebih sedikit. Lebih memanfaatkan potensi yang ada saja” ucapnya saat diwawancarai pada (6/2).

Menurut Hafidl, pilihan menjadikan medsos sebagai medan perebutan suara juga disandarkan pada data pemilih muda di Indonesia yang cukup tinggi. Hal ini seiring juga dengan tingginya konsumsi medsos di kalangan orang muda.

Mengutip survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), di tahun 2022-2023 jumlah penduduk Indonesia yang terkoneksi dengan internet sudah mencapai lebih dari 215 ribu lebih penduduk dari total 275 ribu penduduk.

Berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) KPU RI, jumlah pemilih muda di Indonesia mencapai 52 persen. Rinciannya, pemilih berusia 17 tahun sebanyak 0,003 persen atau sekitar 6 ribu jiwa.

Kemudian, pemilih dengan rentang usia 17 tahun hingga 30 tahun mencapai 31,23 persen atau sekitar 63,9 juta jiwa. Lalu disusul dengan Pemilih dengan 31 tahun hingga 40 tahun sebanyak 20,70 persen atau sekitar 42,395 juta jiwa.

Sesuai dengan data tersebut, Hafidl kembali menyatakan perhitungannya dalam melakukan kampanye melalui medsos dengan minim pemasangan spanduk ataupun baliho di ruang publik. Kesempatan berhasil berkampanye melalui media spanduk dan baliho dikisar olehnya hanya berada pada persentase 30-40%.

“Metode kampanye tersebut sudah sangat konvensional, sangat efektif jika digunakan 10-20 tahun yang lalu,” ujarnya.

Tak berbeda dengan Hafidl, berkampanye melalui media digital diterapkan pula oleh Muhammad Ridho, Caleg DPRD Provinsi Kalimantan Selatan. Memiliki pengikut sejumlah 81,8 ribu menjadikan pria yang sering disebut Edo tersebut rutin mengunggah konten kampanye diri di akun instagramnya.

“Melalui media sosial, khususnya Instagram, konten yang saya hadirkan dapat beragam jenisnya. Mulai dari edukasi, lifestyle, dan hiburan,” ujarnya saat diwawancarai pada (10/2).

Visi dan Misi Harus Jelas

Melihat fenomena kampanye berbasis medsos saat ini, Fahrianoor selaku dosen komunikasi politik di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turut mengutarakan pendapatnya.

Ia menimbang bahwa untuk penggunaan media sosial sebagai alat kampanye memiliki jangkauan massa yang luas, berbeda dengan pemasangan spanduk dan baliho yang menjadi praktik langganan berkampanye.

Lagi pula, menurut Fahri, caleg-caleg yang menggunakan alat peraga kampanye konvensional sejauh ini jarang menampilkan dengan jelas visi dan misinya. Tak seperti media sosial yang memiliki kemampuan untuk memuat materi kampanye lebih banyak.

“Sejauh ini yang saya lihat baliho ataupun spanduk mereka (caleg) hanya menampilkan citra diri, jarang yang menampilkan dengan jelas visi-misinya mendatang,” ujarnya.

Menurut Fahri, penting memilih calon pemimpin dan wakil rakyat tidak semata karena media yang mereka terapkan. Warga juga perlu memerhatikan muatan kampanye yang disampaikan para calon politikus itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *