- Teks: Aldi Ihtihsan
- Foto: LK3 Banjarmasin
- Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, meninjau malam kedua Religi Expo 10 dengan mendatangi stan komunitas lintas iman, lembaga keagamaan, dan UMKM, sekaligus menyoroti keterlibatan warga yang stabil selama satu dekade penyelenggaraan.
- Yamin menyinggung capaian Indeks Kota Toleran 2024, di mana Banjarmasin berada di urutan ke-15 secara nasional dan tertinggi di Kalimantan, sambil menyatakan target untuk menembus 10 besar.
- Direktur LK3 Banjarmasin menyebut tingginya arus pengunjung sebagai tanda kebutuhan ruang perjumpaan, dan menilai expo ini berfungsi sebagai laboratorium sosial yang memperkuat jaringan toleransi berbasis komunitas.
BANJARTIMES– Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, menghadiri malam kedua Religi Expo 10 yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) di Siring Nol Kilometer. Setibanya di lokasi, ia bergerak meninjau stan komunitas lintas iman, lembaga keagamaan, serta pelaku UMKM yang terlibat dalam agenda tahunan besutan LK3 Banjarmasin ini.
Di area pameran, Yamin berbincang dengan sejumlah peserta dan menyimak kegiatan seni budaya yang dipersiapkan panitia. Ia menyebut penyelenggaraan expo selama satu dekade terakhir menunjukkan keterlibatan warga yang terus terjaga.
“Religi Expo adalah cermin dari semangat Banjarmasin sebagai kota yang rukun, terbuka, dan menghargai perbedaan. Saya bangga melihat anak-anak muda, komunitas, dan berbagai lembaga hadir dengan ide-ide segar dan kegiatan yang mendidik,” ujarnya.
Ia pun terus mendorong, agar kota yang dihuni oleh komunitas lintas agama dan kepercayaan ini menjadi kota yang semakin toleran.
Meminjam data Setara Institute, Banjarmasin berada di urutan ke-15 untuk Indeks Kota Toleran (IKT) 2024. Capaian ini menjadikan Banjarmasin sebagai kota dengan nilai skor tertinggi dari daerah-daerah lain di Kalimantan. “Harapannya kita bisa masuk ke 10 besar,” ujar Yamin di depan para pengunjung Religi Expo 10.
Religi Expo sebagai Laboratorium Sosial
Direktur LK3 Banjarmasin Abdani Solihin menilai tingginya arus pengunjung pada hari kedua menjadi indikator kebutuhan masyarakat terhadap ruang perjumpaan.
“Hari kedua ini menunjukkan bahwa masyarakat Banjarmasin sangat merindukan ruang yang mempertemukan kreativitas, edukasi, dan nilai-nilai keberagaman. Expo ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menjadi laboratorium sosial yang mempertemukan banyak komunitas dalam suasana saling menghargai,” kata Abdani.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota atas dukungan penuh yang membuat kegiatan ini terasa istimewa,” ucapnya.
Abdani menambahkan Religi Expo diarahkan sebagai upaya memperkuat jaringan toleransi berbasis komunitas di tengah perubahan sosial kota.
Didukung Banyak Pihak
Dalam kesempatan itu, LK3 menyampaikan apresiasi kepada sponsor, yakni Mission 21, Wahid Foundation, Setara Institute, Perkumpulan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Selatan, serta dukungan Mie Sedap dan Top Kopi.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada seluruh peserta stan, pengisi acara, komunitas suku, serta Pemkot Banjarmasin.
“Akhirnya kami mohon doa dan dukungan agar seluruh rangkaian kegiatan Religi Expo 10 berjalan lancar, membawa inspirasi dan menjadi ruang perjumpaan lintas iman dan lintas generasi menghidupkan semangat untuk mencintai bumi sekaligus merangkul keberagaman,” tutup Abdani.

