Mengunjungi Pameran ‘Rindang Banua’ dari Misbach Tamrin, Sang Maestro Tampilkan 21 Lukisan

  • Teks: Aldi Ihtihsan
  • Foto: Dok Banjartimes
  • Pameran tunggal pertama Misbach Tamrin di Banjarmasin menampilkan 21 karya, termasuk lukisan Perempuan Nusantara yang ia buat saat menjadi tahanan politik pada 1977.
  • Rindang Banua merangkum perjalanan panjang Misbach dari Sanggar Bumi Tarung hingga fase kreatif terbarunya, dengan gaya visual yang berkembang dari realisme kerakyatan menuju kesan impresionistik.
  • Kurator Hajriansyah menyebut pameran ini sebagai tonggak penting, menjadi pameran tunggal kedua Misbach setelah Galeri Nasional 2015 dan yang pertama digelar di Kalimantan Selatan, tanah kelahiran sang maestro.

BANJARTIMES— Misbach Tamrin, salah satu maestro seni rupa Indonesia, membuka pameran tunggal perdananya di Banjarmasin bertajuk “Rindang Banua” di Gedung Wargasari Taman Budaya Kalimantan Selatan, 23 November–2 Desember 2025. Sebanyak 21 karya dipamerkan, termasuk lukisan yang ia buat saat menjadi tahanan politik era Orde Baru.

Salah satu karya yang menarik perhatian publik adalah Perempuan Nusantara, lukisan berukuran 138×45 sentimeter yang dibuat Misbach pada 1977 ketika masih berada dalam penjara. Karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai seniman yang pernah ditahan 13 tahun tanpa pengadilan.

“Ada perempuan Papua, Minang, Banjar, dan lain-lain. Walaupun saya ditahan 13 tahun, tapi jiwa nasionalisme saya masih tetap utuh,” kata Misbach.

Pameran ini merangkum berbagai fase kreatif Misbach: pemandangan Sungai Barito, kehidupan pendulang intan, hingga figur-figur sosial Kalimantan Selatan. Gaya gelap-terang yang khas tetap muncul dalam setiap kanvas, menunjukkan konsistensi visual yang ia bangun sejak masa studinya di ASRI Yogyakarta.

Misbach lahir di Amuntai pada 1941 dan tumbuh bersama lingkungan seni sejak kecil. Perjalanannya dalam dunia rupa dimulai dari kelompok Tunas Pelukis Muda hingga keterlibatannya di Sanggar Bumi Tarung. Penangkapannya pasca-1965 menjadi titik krusial yang memengaruhi tema dan ketekunan berkaryanya.

Setelah bebas pada 1978, ia kembali aktif menghasilkan karya, termasuk sejumlah monumen di Kalimantan Selatan dan Tengah. Namanya kian dikenal setelah Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran retrospektifnya pada 2015 yang menampilkan 65 karya penting. Koleksinya kini tersimpan di berbagai lembaga nasional dan internasional, termasuk Museum Seni Oriental Negara di Moskow.

Pameran “Rindang Banua” menjadi penanda kembalinya Misbach ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun berkarya di berbagai kota. Gedung Wargasari yang baru direvitalisasi menjadi ruang pamer yang mempertemukan jejak sejarah, perjalanan kreativitas, dan kontribusi panjang sang maestro bagi seni rupa Indonesia.

Apa Kata Kurator?

Hajriansyah, kurator Rindang Banua, bilang ini adalah pameran tunggal kedua Misbach setelah yang pertama digelar di Jakarta pada 2015. Juga menjadi pameran perdana Misbach di Kalimantan Selatan, kampung halamannya. Momen itu menjadi tonggak sejarah, karena baru tercapai setelah puluhan tahun berkarya sebagai pelukis.

“Pameran yang pertama digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta sepuluh tahun yang lalu (2015),” kata Hajri. Ia mengenang kehadiran para sahabat yang turut menyaksikan momen bersejarah itu dan merayakan perjalanan panjang sang seniman.

Misbach dikenal publik seni melalui Sanggar Bumi Tarung, kelompok seni berhaluan realisme kerakyatan yang menempatkannya sebagai salah satu tonggak terakhir angkatan itu. “Selama ini Misbach dikenal karena Sanggar Bumi Tarung, sanggar yang membesarkan namanya hingga dicatat sebagai the last man standing,” tulis Hajrian.

Namun pada pameran kali ini, Misbach tampil sebagai individu dengan nama dan identitas kreatifnya sendiri. Ia kembali pada gaya awal yang dipelajari dari gurunya, Gt. Sholihin, dengan sentuhan impresionistik dalam karya-karya terbarunya. Hajrian mencatat bahwa karakter revolusioner Misbach tetap terasa meski menghadirkan tema-tema alam, kota, sungai, dan lanskap Banua. “Yang tersisa dari realisme revolusioner-nya adalah ‘romantisme revolusioner’,” kata Hajri.***