Old Town Waves: Ketika Musisi Lintas Genre Banjarmasin Bertemu di Satu Panggung yang Sama

  • Teks: Harfin Shad
  • Foto: Harfin/Dok Banjartimes
  • Old Town Waves menghadirkan band pelajar hingga musisi lebih senior dalam satu panggung di Kota Lama Banjarmasin, membuka ruang temu dan pertukaran antarkomunitas musik yang selama ini jarang terjadi.
  • Musisi menyoroti terbatasnya venue, rumitnya perizinan, stigma terhadap acara musik, serta minimnya sponsor sebagai hambatan utama berkembangnya skena musik lokal.
  • In.Plan bersama Hollow Lab menggagas acara ini tanpa sponsor, dengan semangat kolektif untuk menyediakan ruang tampil yang konsisten dan inklusif bagi musisi muda sebagai bentuk keberlanjutan ekosistem musik kota.

BANJARTIMES – Kawasan Bandarmasih Tempoe Doeloe atau “Kota Lama Banjarmasin” menjelma ruang hidup bagi denyut musik lintas genre, pada Sabtu (29/11). Di tempat itu, gigs musik bertajuk Old Town Waves menghadirkan panggung sederhana yang menyatukan musisi dan band dari berbagai usia dan aliran. Inisiatif ini digagas oleh In.Plan, berkolaborasi dengan Hollows Lab Studio.

Lampu temaram berpadu dengan aroma kopi dan riuh percakapan para pengunjung. Di sudut-sudut kawasan berarsitektur lama itu, musik mengalir, membingkai suasana yang jarang hadir di ruang kota ini. Tidak ada jarak tegas antara panggung dan penonton; yang ada hanya keakraban dan rasa ingin tahu yang sama atas musik.

Penampilan dibuka oleh Cross The Line, band pelajar dari SMA Negeri 4 Banjarmasin yang beranggotakan lima orang. Mereka membawakan tiga lagu dari musisi tanah air. Salsabila, sang bassist, mengungkapkan bahwa ini adalah pertama kalinya mereka tampil di tempat seperti kafe atau ruang pertunjukan publik.

“Pertama kali ikut seperti ini, rasanya senang, tapi deg-degan banget.”

Rayfa, vokalis Cross The Line, menuturkan bahwa band ini terbentuk dari program ekstrakurikuler sekolah, beranggotakan siswa kelas X dan XI yang awalnya dipersatukan oleh sebuah lomba. Nama Cross The Line pun lahir dari kebingungan menjelang kompetisi itu.

“Waktu ada lomba, kami butuh nama dan tercetus Cross The Line, awalnya juga bingung,” ucap Rayfa sambil tersenyum.

Bagi mereka, Old Town Waves menjadi pintu pengalaman baru. Acara gratis seperti ini, menurut mereka, memberi ruang aman bagi band pemula untuk belajar, tampil, dan berkembang.

Panggung kemudian diisi oleh Serra Band, grup beranggotakan enam orang dengan dua vokalis. Meski masih muda, mereka telah mencicipi berbagai pengalaman festival. Namun, tampil di tengah atmosfer Kota Lama memberikan sensasi yang berbeda.

Farel, gitaris yang masih duduk di bangku kelas 9 SMP, mengaku, “Senang tampil disini, diliat banyak orang dan menambah rasa percaya diri.”

Karina dan Salma, dua vokalis Serra Band, melihat momen ini sebagai pertemuan lintas komunitas. “Acara ini membuat ruang kami yang masih belajar untuk berkreativitas. Kami juga senang bisa menghibur pengunjung Kota Lama.”

Dari generasi yang lebih lama, hadir Freaky Mates yang menyoroti sisi lain dari skena musik lokal. Aya, sang vokalis, menyambut baik kembalinya acara seperti ini setelah sekian lama. Baginya, ini adalah ruang penting untuk kembali memperdengarkan karya.

“Karya itu ibarat anak,” ujar Iky, bassist band tersebut.

Rifqy, drummer Freaky Mates, menilai bahwa skena musik lokal belakangan terasa tidak terarah. Ia menyimpan kegelisahan agar jiwa seni tidak benar-benar memudar di kota ini.

“Old Town waves sangat membantu membangkitkan lagi minat musik di kota.”

Minimnya ruang kreatif dan dukungan sponsor disebut menjadi alasan utama langkanya acara musik. “Harapannya ada sponsor dan promotor yang mau menampung band-band seperti ini,” kata Iky.

Hafidh, sang gitaris, menambahkan bahwa persoalan perizinan dan keterbatasan venue ikut mempersempit ruang gerak musisi, khususnya di Banjarmasin.

“Acara gigs identik dengan metal, dan stigma itu bikin perizinan susah. Sebelum covid banyak event, tapi sekarang sulit, ditambah beberapa kejadian yang bikin tempat-tempat di Kalimantan Selatan makin susah dipakai untuk event.”

Menutup perbincangan, Barry, gitaris lainnya, menegaskan satu hal yang mendasar dari pertemuan malam itu:

“Lintas genre bisa menyatukan komunitas yang terpisah.”

Tanpa Sponsor, Hadirkan Format “Kolektifan”

Di balik semua itu, Old Town Waves berdiri sebagai buah dari kebiasaan untuk bergerak tanpa menunggu. Ferdy dan Uta, penggagas In.Plan, menuturkan bahwa proyek ini tidak lahir dari keresahan semata. Ini merupakan buah dari kebiasaan membangun ruang sendiri sejak bangku kuliah.

“Kami terbiasa bikin acara sendiri. Dari sejak kuliah, aku bikin event dibantu Uta. Event pertama kami bahkan berupa tur kecil ke tiga kota: Jogja, Banjarmasin, dan Klaten. Itu masa-masa awal kami ngebentuk project ini,” kata Ferdy.

Mereka ingin menghadirkan semangat kolektif ala Jogja, di mana event musik digerakkan oleh komunitas, tanpa ketergantungan pada sponsor.

“Acara ini pun tanpa sponsor. Dengan format kolektif, impact-nya saling menguntungkan. Minimal, aku punya tempat untuk perform sebulan sekali. Urusan orang mau nonton atau tidak, itu hak mereka. Yang penting tempat berekspresi itu ada,” tambah Ferdy.

Uta melanjutkan, “Kami ingin menunjukkan bahwa landscape musik itu luas. Ada banyak bentuk, banyak pendekatan. Tantangannya memang mental, tapi anak-anak muda yang tampil hari ini sadar mereka perlu dukungan dari sesama musisi. Siapa lagi yang bisa bantu kita kalau bukan kita sendiri?”***