Belasan Puisi Karya Para Penyair Muda Kalsel Dibedah di Dialektika Sastra Menara Pandang 2025

  • Teks: Muhammad Rahim
  • Foto: M Rahim
  • Belasan puisi penyair muda Kalsel dibedah langsung oleh empat akademisi/sastrawan (HE Benyamine, Sumasno Hadi, Nailiya Nikmah, Dewi Alfianti), dengan catatan utama pada kelemahan literasi, ketepatan diksi, dan kecenderungan puisi yang masih menjelaskan, belum menciptakan pengalaman puitik.
  • Karya yang disorot spesifik antara lain puisi Muhammad Irwan Aprialdy (tema sosial-politik dengan figur “ibu” sebagai lisensi poetik) dan Luka Sungai karya Syarif Hidayatullah yang dinilai memuat kesadaran ekologis dan narasi luka sungai sebagai memori peradaban.
  • Kritik utama para pembicara: banyak puisi masih sloganistik, kurang pengendapan, terlalu bermain kata tanpa konsep yang kuat, serta belum memosisikan puisi sebagai ruang kontemplasi dan refleksi di tengah dominasi teknologi dan cara pandang instrumental terhadap dunia.

BANJARTIMES – Sebanyak 14 karya puisi penyair muda Kalimantan Selatan dibedah dalam Forum Penyair Muda yang menjadi bagian dari rangkaian Dialektika Sastra Menara Pandang 2025, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini digelar Dewan Kesenian Banjarmasin sebagai ruang dialog, kritik, dan pendalaman proses kreatif sastra.

Empat akademisi dan sastrawan terlibat sebagai pembicara, yakni HE Benyamine, Sumasno Hadi, Nailiya Nikmah, dan Dewi Alfianti. Mereka mengulas karya peserta dari berbagai sudut pandang, mulai dari gagasan, diksi, struktur puisi, hingga keberanian penyair muda dalam mengolah tema sosial, budaya, kemanusiaan, dan ekologis.

Forum tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh kebudayaan dan sastra, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Selatan Datok Taufik Arbain, Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin Hajriansyah, Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan Armiati Rasyid, serta beberapa pengurus dan penasihat Dewan Kesenian daerah. Kehadiran mereka menegaskan dukungan terhadap penguatan ekosistem sastra di Kalimantan Selatan.

Akademisi Politeknik Negeri Banjarmasin sekaligus penulis novel Sekaca Cempaka, Nailiya Nikmah, menekankan bahwa keindahan puisi tidak terletak pada kemewahan metafora yang klise, melainkan pada kemampuannya menggugah batin pembaca.

“Indah dalam puisi adalah ketika pembaca ikut bernyanyi bersama visi yang ditawarkan penyair. Ketika kegelisahan, kecemasan, bahkan kebencian batin penyair bisa menular kepada pembaca, di situlah letak kekuatan puisi,” ujarnya.

Menurut Nailiya, subjektivitas pembaca memang tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh penulis. Namun, subjektivitas itu dapat diarahkan melalui pemahaman teori, ilmu, dan perangkat pembacaan sastra. Ia juga menyinggung pandangan kritik sastra tentang “kematian pengarang”, meski tetap menilai unsur ekstrinsik penulis tak sepenuhnya hilang dari karya.

“Puisi dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Kita tidak bisa membicarakan aspek ekstrinsik yang multidimensional tanpa terlebih dahulu memahami unsur intrinsik karya itu sendiri. Puisi dibangun oleh kata-kata, oleh struktur, diksi, dan bangunan internal,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Nailiya membedah puisi karya Muhammad Irwan Aprialdy yang dinilainya kuat pada kegelisahan sosial-politik dan etnik. Ia menyoroti penggunaan sosok ibu sebagai medium penyampaian suara batin penyair.

“Sekilas tampak seperti dialog dengan ibu, tetapi sesungguhnya itu adalah suara Irwan sendiri yang ditujukan kepada masyarakat luas. Sosok ibu hanya menjadi lisensi poetik,” katanya.

Ia juga mengapresiasi puisi Luka Sungai karya Syarif Hidayatullah yang dinilainya memuat kesadaran ekologis dan kepedulian terhadap sungai sebagai bagian dari peradaban.

“Puisi ini menjadi harapan, bukan hanya bagi Kalimantan Selatan, tetapi juga bagi dunia. Sungai menyimpan sejarah, memori peradaban, dan kini juga luka,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati sastra HE Benyamine menyoroti persoalan literasi dan kesadaran konseptual dalam karya penyair muda. Dengan mengutip pemikiran filsuf Martin Heidegger, ia menyebut puisi sebagai ruang kontemplasi di tengah dominasi teknologi yang membingkai manusia dan alam sekadar sebagai sumber daya.

“Sungai, misalnya, dilihat dari seberapa besar ia bisa dibendung, seberapa banyak listrik yang bisa dihasilkan, bukan sungai sebagai sungai itu sendiri,” ujar Benyamine.

Ia mencatat kecenderungan puisi penyair muda yang lebih banyak menjelaskan ketimbang menciptakan pengalaman puitik, mempermainkan kata tanpa konteks, serta lemahnya pemilihan diksi akibat rendahnya literasi.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dewi Alfianti, menegaskan bahwa menulis puisi adalah hak setiap orang. Namun, menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara menulis puisi dan menyebut diri sebagai penyair.

“Penyair harus menciptakan puisi, bukan sekadar pengungkapan perasaan an sich. Ada karakteristik puisi yang mau tidak mau harus dipenuhi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Sumasno Hadi. Ia menilai sejumlah puisi penyair muda masih belum melalui proses pengendapan yang matang dan cenderung jatuh pada sifat sloganistik.

“Sebagai pembaca puisi, saya tidak sedang mencari ajaran. Saya ingin diajak mengalami dan merenung,” tuturnya.

Meski demikian, Sumasno mengapresiasi sejumlah karya yang dinilainya menunjukkan upaya kebaruan, eksplorasi kultural, serta pencarian bentuk yang menjanjikan. Forum ini diharapkan menjadi ruang belajar yang memperkaya proses kreatif para penyair muda ke depan.