- Teks: Riyad Dafhi Rizky
- Foto: Dok/Forum Sineas Banua
- Melalui NGOFI ke-37 bertema Kematian Ruang Hidup, komunitas film di Banjarmasin menghadirkan enam film lingkungan sebagai medium diskusi publik tentang relasi manusia, alam, dan dampak pembangunan ekstraktif.
- Para pembuat film, aktivis, dan peneliti menilai film mampu menyampaikan kritik terhadap kebijakan dan praktik perusakan lingkungan di tengah sempitnya ruang kritik terbuka, dengan mengandalkan cerita personal dan pengalaman konkret.
- Meski isu lingkungan lekat dengan identitas Kalimantan Selatan dan diminati banyak sineas muda, produksi film lingkungan masih menghadapi hambatan tekanan kekuasaan, minimnya dukungan, serta godaan pendanaan berbalut greenwashing.
BANJARTIMES— Puluhan orang muda berkumpul di Wetland Square Banjarmasin, Jalan A Yani Kilometer 3,5, Minggu (14/12/25). Mereka datang untuk menonton kegiatan Ngobrol Film (NGOFI) ke-37 bertajuk ‘Kematian Ruang Hidup’ yang diinisiasi Forum Sineas Banua (FSB). Acara dimulai dengan memutar enam film bertema lingkungan, untuk selanjutnya menjadi ruang diskusi bersama penonton, malam itu.
Pemutaran dibuka dengan Anaktana, film produksi Oridek Films yang diproduseri Jesenia Kurniawatimaniagasi dan disutradarai Throgracia Rumansara. Film ini berkisah tentang Anaktana, seorang anak laki-laki bisu yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam. Ketika sebuah perusahaan sawit menghadapi persoalan hilangnya para pekerja di hutan, mereka meminta bantuan Anaktana melalui sang ibu.
Namun, perjalanan tersebut justru membuka sisi gelap keserakahan manusia terhadap alam. Anaktana berhadapan dengan kekuatan hutan yang hidup—termasuk sosok misterius gadis pohon—dan harus melindungi dirinya serta ibunya di tengah konflik antara manusia, alam, dan kerakusan.
Film berikutnya, Memburu Manusia Kijang, diproduksi Saruntung Production, diproduseri Ananda Ahadya Divanti, dan disutradarai Dedetria Holyri. Film ini mengisahkan Mira, seorang gadis miskin yang mengikuti sayembara memburu manusia kijang—makhluk mitos yang dipercaya sebagai penculik anak-anak—demi biaya pengobatan ibunya yang sakit.
Di tengah perburuan di hutan Gunung Kelam, Mira dihadapkan pada dilema ketika makhluk tersebut muncul dengan wujud menyerupai sang ibu. Perjumpaan itu menyadarkannya bahwa tidak semua yang disebut manusia benar-benar manusia, dan tidak semua yang disebut monster benar-benar monster.
Film ketiga adalah Dihapus dari Peta, produksi Veneirs Film yang diproduseri Nabila Maharani Ribusari dan disutradarai Maarij Reika. Film ini bercerita tentang seorang laki-laki yang kisah masa kecilnya—tersimpan dalam foto dan ingatan—diangkat oleh seorang wartawan. Desa dan rumahnya akan digusur demi pembangunan ibu kota negara baru. Ia kemudian mengajak sang kakak kembali ke tempat bermain mereka, memotret dan merangkai cerita seolah tempat itu masih tetap sama.
Selanjutnya, Pelabuhan Berkabut, produksi Kura-Kura Films dengan produser Annisa Dewi dan sutradara Haris Yulianto. Film ini mengisahkan Rozaq (35), lelaki yang hidup di tengah krisis dan nekat mencuri ikan dari pemasok makanan di pelabuhan demi menyelamatkan kandungan istrinya, Sasa (36). Ketakutan akan melahirkan anak stunting seperti dirinya mendorong Rozaq bertindak. Namun, sebuah gas misterius justru mengancam mengubahnya menjadi ikan.

Film kelima, Laut Masih Memakan Daratan, diproduksi Studio Murup, diproduseri Lisa Nurholiza, dan disutradarai Afif Fahmi. Film ini memotret perjalanan Arga, seorang pembuat film dokumenter yang kembali ke tanah asalnya setelah 11 tahun merantau. Kampung tersebut kini terendam banjir rob. Kepulangannya bertujuan untuk berziarah ke makam sang nenek, sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang perubahan lanskap kampung yang ditinggalkannya.
Pemutaran ditutup dengan Imaji Tanah Leluhur, produksi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, diproduseri Donny Muslim dan disutradarai Rifky Muhammad.
Film ini menampilkan dua sudut pandang masyarakat adat Dayak Pitap di Desa Dayak Pitap, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Eka Wati, seorang pemudi Dayak Pitap, bertahan hidup dari kekayaan tanah leluhurnya dan menjaga wilayah adat dengan caranya sendiri. Sementara itu, Anang Suriani, pemuda Dayak Pitap, memperjuangkan tanah warisan mereka dari perusahaan berwatak ekstraktif yang hingga kini masih mengantongi izin pemerintah. Film ini menjadi pernyataan sederhana, namun tegas, tentang relasi pemuda-pemudi adat Dayak Pitap dengan tanah leluhur mereka.
Isu Lingkungan Harus Lebih Diarustamakan
Sutradara Imaji Tanah Leluhur, Rifky Muhammad mengatakan, dalam konteks situasi Kalimantan Selatan hari ini, sudah seharusnya narasi tentang keadilan lingkungan lebih sering diarusutamakan melalui berbagai medium, termasuk film.
“Saya juga percaya narasi (film) dapat diarahkan untuk membangun kesadaran supaya para penguasa tidak lagi serampangan memperlakukan alam dan masyarakat yang hidup di dalamnya.”

Sebab, pembangunan yang tidak adil selalu menyisakan konsekuensi, terutama ketika tak ada pembatasan terhadap para pemodal perusak lingkungan. “Mereka akan semakin sewenang-wenang dalam merusak alam kita,” ujarnya.
Dengan framing yang tepat, Rifky berharap film-film bertema lingkungan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif, tidak hanya di tengah masyarakat, tetapi juga di kalangan pengambil kebijakan, agar pembangunan berjalan lebih adil dan berkelanjutan.
Tanpa perhatian bersama, ia khawatir jika daerah ini akan berpotensi besar menghadapi krisis, bahkan bencana ekologis, seperti yang telah dialami Pulau Sumatera.
Film sebagai Medium Alternatif
Direktur Eksekutif Karamunting Institute, Mahtia Safitri menyoroti sempitnya ruang kritik terhadap kebijakan dan praktik perusakan lingkungan.
Suara-suara yang mempertanyakan arah pembangunan kerap dibungkam, baik melalui intimidasi, pelabelan, maupun tekanan hukum. Membuat narasi tandingan terhadap pembangunan ekstraktif sulit tumbuh di ruang publik.
Dalam kondisi ini, produksi hingga pemutaran film-film yang membicarakan soal lingkungan seperti dalam agenda NGOFI menjadi penting.
“Film dapat menjadi medium alternatif untuk menyampaikan kritik yang selama ini sulit disuarakan secara terbuka,” katanya.

Melalui cerita dan pengalaman personal yang dihadirkan di layar, publik diajak melihat langsung dampak nyata dari kebijakan yang tidak adil.
“Film membuka ruang dialog yang lebih aman dan manusiawi. Ia memungkinkan kritik hadir tanpa harus berhadap-hadapan secara langsung dengan kekuasaan,” ujarnya.
Terlepas itu, ia katakan, ikhtiar memperjuangan lingkungan kian mendesak di tengah kerusakan alam yang terus terjadi.
Akumulasi kebijakan pembangunan serta eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung dalam waktu lama tanpa kontrol memadai telah membawa Kalimantan Selatan ke situasi rentan krisis ekologis.
Dalam kondisi tersebut, kata Mahtia, upaya menjaga lingkungan tidak lagi bisa dipandang sebagai pilihan. Ia telah menjadi keharusan bersama untuk memastikan keberlanjutan hidup masyarakat, terutama kelompok rentan yang selama ini paling terdampak oleh kerusakan alam.
Minat Tinggi, Dukungan Minim
Pegiat film di FSB, Munir Sadikin berkata, banyak pembuat film di Kalimantan Selatan yang sebenarnya ingin mengangkat isu kerusakan lingkungan, namun terhambat oleh ‘banyak pertimbangan.’
Isu-isu ini kerap bersinggungan dengan perusahaan besar, termasuk jejaring kekuasaan informal yang menyertainya, sementara para filmmaker merasa tidak memiliki relasi atau dukungan yang cukup kuat untuk bertahan dalam tekanan semacam itu.
Munir menuturkan, dalam banyak kasus, hambatan sudah muncul sejak tahap riset. Baru mendengar satu nama atau tahu keterkaitannya dengan pihak tertentu, langsung mundur.
“Ketakutan itu membuat banyak proyek berhenti bahkan sebelum benar-benar dimulai,” ucapnya.
Situasi tersebut diperumit oleh hadirnya tawaran-tawaran pendanaan, seperti program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), yang kerap berbalut praktik greenwashing.
Skema semacam ini perlahan mengaburkan keberpihakan pembuat film terhadap isu lingkungan. Padahal, Munir menilai isu lingkungan justru tidak terpisahkan dari identitas film di Kalimantan Selatan.
Berdasarkan pengamatannya, ketika pembuat film di Kalimantan Selatan ingin menampilkan identitas daerahnya secara jujur, mereka mau tidak mau harus berbicara tentang lingkungan, akses, dan persoalan adat. “Sebab begitulah orang mengenal Kalimantan Selatan,” katanya.

Ia menambahkan, ketika film-film Kalimantan justru menghindari persoalan tersebut dan hanya menampilkan narasi kemajuan semu, keberpihakan pembuat film secara tidak langsung bergeser ke arah normalisasi eksploitasi yang terjadi di wilayahnya sendiri.
Untuk itu, kegiatan NGOFI ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat para pelaku industri film dan publik perkotaan agar lebih sering menyuarakan isu lingkungan.
Menurutnya, warga urban kerap merasa jauh dari dampak langsung kerusakan alam, berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan, pedalaman, maupun pesisir.
“Kota sering kali tidak merasakan langsung dampaknya. Sementara masyarakat di dekat hutan, pegunungan, atau pantai justru menjadi pihak pertama yang terdampak,” ujarnya.
Munir mengkritik kecenderungan sebagian pelaku kreatif di kota yang terlalu sibuk dengan narasi estetika tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis.
Baginya, kreativitas semacam itu justru tidak bertanggung jawab. Sebab, kualitas hidup masyarakat perkotaan sangat bergantung pada sumber daya alam yang berasal dari kampung dan wilayah sekitarnya.
Sehingga, kepedulian pelaku kreatif di kota-kota besar Kalimantan Selatan, menurutnya, perlu terus diingatkan, dan film memiliki peran penting dalam usaha tersebut.
Film, kata Munir, mampu menggambarkan kompleksitas persoalan secara utuh, sehingga mendorong publik berpikir lebih dewasa dan bijak dalam menarik kesimpulan.
“Film tidak hanya menyajikan data, tapi juga emosi. Itu yang membuatnya berbeda dari media lain,” ucapnya.
Sebagai seni yang direkam, film memiliki daya hidup yang panjang—dapat diputar ulang, disebarluaskan, dan dinikmati lintas waktu. Sajian audio-visualnya juga membuat pesan lebih mudah dicerna oleh penonton.
“Kalau kita bisa mempertontonkan film yang berdampak, keren dan layak ditonton, pelan-pelan kesadaran akan tumbuh,” tandasnya.***

