- Teks: Riyad Dafhi Rizki
- Foto: Riyad/Banjartimes
- Operet anak “Tanah yang Hilang: Ketika Tanah Tidak Berbicara, Manusia Kehilangan Makna” dipentaskan di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Sabtu (10/1/26). Pertunjukan diproduksi oleh mahasiswa Pendidikan Seni Tari Universitas PGRI Kalimantan, dengan persiapan selama lima bulan, melibatkan 32 talent dan 55 kru, serta kolaborasi dengan siswa dari sejumlah sekolah.
- Kisah berlatar Kampung Tanah Jaya, menggambarkan relasi warga dengan tanah yang dijaga turun-temurun, lalu retak ketika janji pembangunan masuk, tanah berpindah tangan, alam rusak, bencana datang, dan konflik muncul di tengah warga.
- Tema konflik agraria dan kerusakan lingkungan dipilih karena dekat dengan situasi banjir di Kalimantan Selatan. Sudut pandang anak-anak ditonjolkan untuk menegaskan bahwa generasi muda menjadi pihak yang paling terdampak sekaligus pewaris masa depan lingkungan.
Hamparan sawah hijau dan hutan yang tenang mengitari sebuah desa bernama Tanah Jaya. Di kampung inilah sekelompok warga hidup dari tanah yang mereka rawat turun-temurun, menanam, memanen, lalu menanam kembali sebagai bagian dari siklus yang mereka jaga bersama.
Dari percakapan di tengah panen, anak-anak bertanya tentang padi yang menunduk dan tanah yang harus dihormati. Jawaban para orang tua sederhana, tanah memberi hidup, dan karena itu harus dijaga.
“Kalau tanahnya rusak… semua itu akan hilang,” kata seorang warga di hadapan anak-anak. “Dan kita yang akan merasa lapar,” sahut mereka hampir bersamaan.
Dari situ cerita bergerak, memperlihatkan bagaimana tanah dipahami sebagai sumber hidup dan tempat kembali. Sosok penjaga tanah hadir lewat tarian di antara kabut pagi, menandai hubungan yang dijaga dengan penuh hormat. Warga dan anak-anak kemudian mengucap janji untuk tidak serakah, menanam lebih banyak dari yang diambil, serta menghormati tanah seperti menghormati orang tua.
Namun, kedamaian di Kampung Tanah Jaya tidak bertahan lama. Kata “perubahan” datang dari luar, membawa tawaran jalan, bangunan, dan pekerjaan. Rayuan diarahkan kepada kepala desa, yang perlahan goyah oleh janji kemajuan. Tanah mulai berpindah tangan, alat berat masuk, sawah dan hutan tersingkir dari lanskap kampung. Bersamaan dengan itu, bencana datang, dan konflik pecah ketika warga menyadari harga yang harus dibayar dari pembangunan yang tidak berpihak.
***
Kisah tentang Tanah Jaya dan keretakan yang mengikutinya itu hadir di panggung melalui operet tari “Tanah yang Hilang: Ketika Tanah Tidak Berbicara, Manusia Kehilangan Makna”, yang dipentaskan di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Sabtu (10/1/26). Pertunjukan ini diproduksi oleh mahasiswa Pendidikan Seni Tari Universitas PGRI Kalimantan.
Pimpinan produksi, Norhidayanti (21), mengatakan tema pertunjukan dipilih karena dekat dengan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat. Konflik agraria, menurut dia, tidak berhenti pada persoalan lahan, tetapi juga memicu kerusakan lingkungan dan bencana yang dampaknya dirasakan langsung oleh warga.
“Kita merasakan langsung betapa bencana yang terjadi hari ini berdampak kepada hidup kita,” ujarnya, merujuk pada banjir yang melanda Kalimantan Selatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel menyebut mencatat 221.377 jiwa dari 76.933 kepala keluarga terdampak banjir di awal 2026, dengan 32.365 rumah terendam dan 5.248 orang mengungsi. Angka-angka itu menjadi latar yang membuat cerita Tanah Jaya terasa dekat dengan kenyataan di luar gedung pertunjukan.
Sementara itu, dalam pementasan, sudut pandang anak-anak ditampilkan kuat. Norhidayanti menilai, kelompok inilah yang paling merasakan dampak ketika bencana datang.
“Kami ingin banyak orang tersadar bahwa menjaga alam itu penting, terutama untuk generasi mendatang,” jelasnya.
Persiapan pertunjukan berlangsung selama lima bulan, melibatkan proses riset, penggarapan naskah, dan latihan intensif. Produksi ini diikuti oleh 32 talent dan 55 kru. Selain mahasiswa, para pemain juga berkolaborasi dengan siswa dari sejumlah sekolah. Di antaranya SDN Kuin Selatan 1 Banjarmasin, SD Evangelis Banjarmasin, SMPN 9 Banjarmasin, SMPN 7 Banjarmasin, MTs Al-Mawahib, dan SMAN 5 Banjarmasin.
Salah satu pemeran, Alika Santini (19), yang memerankan roh penjaga bumi dan tanah, mengaku perannya membuat ia melihat lebih dekat hubungan manusia dengan alam.
“Ini sangat relatedengan kondisi kita di Kalsel saat ini. Apalagi saya sendiri merasakan bagaimana banjir mempersulit aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Pengalaman itu, kata Alika, tidak berhenti ketika lampu panggung padam. Kesadarannya tentang pentingnya menjaga lingkungan justru semakin tumbuh setelah terlibat dalam pertunjukan ini. “Semoga semangat menjaga lingkungan bisa menular ke banyak orang,” pesannya.

