- Teks: Sugiharto Hendrata Kuswono
- Foto: MC KALSEL
BANJARTIMES– Setiap Tahun Baru Imlek tiba, umumnya warga Tionghoa di Banjarmasin selalu memiliki cara sendiri untuk memaknainya. Aneka hiasan bermotif shio berwarna emas dan merah menghiasi sisi-sisi ruangan dalam rumah, kue keranjang kembali hadir di meja-meja keluarga, dan rumah-rumah terasa sedikit lebih ramai dari biasanya.
Namun di balik suasana yang akrab itu, ada percakapan kecil yang kerap berulang.
“Mengapa sekarang tidak semua keluarga melakukan sembahyang leluhur?”
“Mengapa hiolo tak lagi mudah ditemukan di setiap rumah?”
Bagi sebagian orang, pertanyaan ini lahir dari kerinduan. Kerinduan pada Imlek yang dulu terasa sarat ritual, ketika altar keluarga menjadi pusat rumah, dan hio menyala dalam keheningan yang khidmat. Tetapi seperti halnya denyut kehidupan di kota ini, tradisi pun tak pernah benar-benar diam.
Rumah dan Ruang Hidup yang Berubah
Generasi terdahulu orang Tionghoa mengenal rumah sebagai ruang yang cukup luas untuk altar leluhur, hiolo, dan ritme ritual yang terjaga lainnya.
Hari ini, realitasnya berbeda.
Rumah lebih kecil.
Ruang lebih terbatas.
Kehidupan lebih cepat.
Banyak keluarga hidup dalam pola yang menuntut efisiensi. Mobilitas tinggi, waktu yang sempit, dan gaya hidup urban membuat sebagian tradisi rumah tangga perlahan menyusut.
Bukan selalu karena ditinggalkan, tetapi karena kehidupan sendiri telah berubah.
Tradisi, pada akhirnya, selalu berdialog dengan realitas.
Sejarah yang Membentuk Cara Merayakan
Ada pula lapisan lain yang sering luput dari percakapan sehari-hari: sejarah.
Ada masa ketika ekspresi budaya Tionghoa dijalankan dengan hati-hati. Banyak simbol budaya yang sekian puluh tahun ikut menghilang dari ruang publik, bahkan menepi dari ruang rumah tangga. Sebagian tradisi berhenti bukan karena kehilangan makna, melainkan karena situasi yang memaksa penyesuaian.
Generasi yang tumbuh dalam periode itu mengalami putus pewarisan ritual.
Bagi mereka, Imlek hadir lebih sebagai:
Momen kebersamaan.
Kesempatan berkumpul keluarga.
Tradisi sosial.
Dan itu bukan bentuk pengurangan identitas, melainkan cerminan pengalaman sejarah yang telah dilalui.
Ritual dan Nilai yang Tak Selalu Sama
Kita sering kali mengaitkan tradisi dengan bentuk luarnya.
Hiolo.
Meja persembahan.
Sembahyang leluhur.
Padahal, di balik ritual tersebut terdapat nilai yang jauh lebih mendasar: penghormatan.
Menghormati orang tua.
Mengingat asal-usul.
Menjaga kesinambungan keluarga.
Hari ini, penghormatan itu mungkin diwujudkan dengan cara yang lebih sederhana:
Menemani orang tua.
Menjaga kehangatan keluarga.
Merawat hubungan lintas generasi.
Ritual bisa berubah, tetapi nilai belum tentu ikut hilang.
Imlek dalam Wajah yang Beragam
Di Banjarmasin hari ini, Imlek hadir dalam banyak wajah.
Ada keluarga yang tetap menjaga ritual lengkap.
Ada yang merayakan dengan makan bersama.
Ada yang cukup dengan silaturahmi dan kebersamaan.
Semua ini adalah bagian dari dinamika budaya yang hidup.
Budaya bukan museum yang membeku dalam satu bentuk. Ia bergerak bersama manusia yang menjalaninya, menyesuaikan diri dengan zaman, tanpa selalu kehilangan makna dasarnya.
Menjaga nilai
Mungkin yang perlu kita renungkan bukan semata apakah tradisi berubah, melainkan apa yang tetap bertahan.
Apakah keluarga masih menjadi pusat?
Apakah rasa hormat masih terjaga?
Apakah ingatan pada akar masih hidup?
Karena pada akhirnya, Imlek selalu berbicara tentang hal yang sama, lintas generasi:
Tentang hubungan yang dirawat.
Tentang ingatan yang dijaga.
Tentang harapan yang diperbarui.
Tradisi mungkin bergeser.
Tetapi selama nilai di baliknya tetap hidup, Imlek tidak pernah benar-benar kehilangan maknanya.
Kota yang Selalu Bergerak
Banjarmasin adalah kota tua yang tahun ini telah memasuki usia 500 tahun, wilayah yang tumbuh dan berkembang dari pergerakan. Kota pelabuhan sungai yang sejak lama menjadi ruang pertemuan banyak orang, banyak budaya, dan banyak kisah saling bertaut.
Komunitas Tionghoa di kota ini telah hidup turun temurun bersama denyut perdagangan, bersama pasar, bersama interaksi sosial yang cair. Identitas sejak awal terbentuk bukan dalam ruang yang tertutup, melainkan dalam persilangan budaya, tradisi dan kearifan yang terus-menerus.
Di sinilah Imlek juga berkembang, tidak hanya sebagai ritual rumah tangga, tetapi juga sebagai perayaan sosial kebersamaan dalam keberagaman.
Imlek sebagai Momen Kebersamaan dalam Keberagaman
Di Banjarmasin, Imlek selalu terasa lebih dari sekadar perayaan etnis. Ia hadir sebagai suasana yang diam-diam akrab, di ucapan selamat dari tetangga maupun sahabat, di percakapan ringan di tempat kerja, bahkan di senyum orang-orang yang mungkin tak merayakannya, tetapi ikut merasakan hangatnya.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Imlek hidup di ruang sosial kita.
Ia tidak berdiri sebagai perayaan yang eksklusif, melainkan perlahan menjadi bagian dari ritme kebersamaan. Warna merah bukan lagi sekadar simbol budaya tertentu, tetapi penanda bahwa di kota ini, perbedaan dapat hadir tanpa jarak.
Bagi banyak keluarga Tionghoa,mensyukuri datangnya Imlek memang seperti momen pulang; pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga, pulang ke meja makan, pulang ke ingatan tentang orang tua dan leluhur. Namun di ruang yang lebih luas, Imlek juga menjadi jembatan sosial, pertemuan, saling menyapa, senda gurau menumbuhkan nilai persahabatan, sebagaimana interaksi sosial pada tradisi hari raya lainnya di negeri ini.
Momen Persaudaraan lintas budaya
Ucapan yang populer dalam momen Imlek seperti “Gong Xi Fa Cai”, sering kali melampaui batas identitas. Ia telah menjadi ungkapan bahasa pergaulan, bahasa keramahan, bahasa kebersamaan. Tak hanya itu, momen Imlek juga mengingatkan kesemarakan sebuah hiburan budaya bagi masyarakat luas yang menyaksikan atraksi barongsai, bersama riuhnya suara tambur dan gemerincing simbal yang mengiringinya.
Di tengah keberagaman yang kerap dibicarakan dalam istilah besar, Imlek justru menunjukkan wajah yang lebih sederhana dan indah: kebersamaan yang terjadi secara alami.
Tanpa banyak wacana.
Tanpa banyak deklarasi.
Hanya melalui interaksi pertemuan budaya.
Mungkin di situlah makna pentingnya. Bahwa perayaan budaya, ketika diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama, tidak memisahkan, melainkan memperkaya ruang sosial kita.
Karena pada akhirnya, Imlek, seperti banyak tradisi lainnya, bukan hanya tentang siapa yang merayakan, tetapi bagaimana kita hidup berdampingan dalam rasa saling menghargai satu sama lainnya.
Selamat Tahun Baru Imlek 2577 / 2026
Xin Nian Kuai Le
Gong Xi Fa Cai !!
*Sugiharto Hendrata merupakan pemerhati sejarah dan budaya Tionghoa Banjar. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalsel

