Di banyak daerah di Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa, ruang publik masih didominasi oleh media arus utama yang sering kali lebih dekat dengan kepentingan ekonomi dan politik lokal. Akibatnya, suara komunitas terdampak—buruh, petani, masyarakat adat, anak muda, dan perempuan—minim terwakili secara adil dan mendalam.

Keterbatasan media kritis di tingkat lokal menyebabkan rendahnya literasi politik warga, lemahnya fungsi kontrol publik terhadap kebijakan, minimnya dokumentasi atas ketimpangan dan pelanggaran hak, ketiadaan ruang aman untuk berekspresi dan berpendapat.

Oleh karena itu, kita butuh sebuah platform media online independen yang berpihak pada kepentingan publik, berpijak pada nilai demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan. Banjartimes yang berbasis di Banjarmasin, Kalimantan Selatan hadir untuk mengisi ruang kosong tersebut dengan mengusung jargon ‘Berani, Bernilai Beda.’