- Teks: Aldi Ihtihsan
- Foto: LK3 Banjarmasin
- Permainan tradisional Banjar menarik arus pengunjung pada hari kedua Religi Expo 10, dengan enggrang, tali ulai, bahaga, dan inting dangkrak dimainkan oleh pengunjung dari berbagai usia.
- LK3 Banjarmasin menegaskan Religi Expo sebagai ruang toleransi, sebagaimana disampaikan Direktur Abdani Solihin yang menyoroti peningkatan indeks toleransi Kota Banjarmasin dan pentingnya merawat modal sosial tersebut.
- Tahun ini expo mengangkat pesan merawat lingkungan, mendorong komunitas lintas iman untuk memperluas kepedulian terhadap relasi manusia dan alam.
BANJARTIMES– Hari kedua Religi Expo 10 di halaman kantor Gubernur Kalimantan Selatan menghadirkan suasana yang lebih ramai. Sejak pagi, pengunjung dari berbagai usia memenuhi area permainan tradisional Banjar. Enggrang, tali ulai, bahaga, hingga inting dangkrak dimainkan bergantian oleh anak-anak, remaja, panitia, dan peserta stand pameran.
Keramaian itu menyatu dengan agenda expo yang tahun ini mengusung tema “Merak: Merawat Alam dan Keberagaman.” Puluhan komunitas lintas agama, suku, dan kepercayaan ambil bagian dalam rangkaian kegiatan yang dibuka pada Jumat (14/11). Religi Expo menjadi ruang perjumpaan yang diinisiasi LK3 Banjarmasin sejak 2016.
Ketua panitia Religi Expo 10, William, mengatakan kehadiran permainan rakyat Banjar menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali budaya lokal. “Kami ingin nilai tradisi dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat. Permainan tradisional Banjar tidak hanya menghibur, tapi juga mengandung filosofi sportivitas dan gotong royong,” ujarnya.
Di sisi lain kegiatan, panggung budaya menampilkan pertunjukan dari berbagai komunitas dan sekolah. Arus pengunjung bergerak dari panggung utama menuju area permainan, memberi alur yang dinamis sepanjang hari.
Lida, salah satu pengunjung, mengatakan permainan tradisional memberi nostalgia bagi orang dewasa dan pengalaman baru bagi anak-anak. Harapan agar permainan rakyat Banjar lebih sering muncul dalam agenda publik terdengar dari sejumlah keluarga yang hadir.
Direktur LK3 Banjarmasin, Abdani Solihin, menyebut Religi Expo sebagai medium untuk merayakan toleransi yang tumbuh di kota ini. “Kita patut bersyukur karena indeks toleransi di Banjarmasin terus mengalami tren positif. Dari yang semula berada di peringkat 30, kini merangkak naik ke posisi 17. Artinya kita punya modal sosial yang sangat baik. Ini perlu terus dipelihara agar kedamaian dapat selalu terwujud,” ujarnya.
Tahun ini, LK3 juga mengangkat pesan tambahan soal lingkungan. Dani menilai isu keberagaman tidak bisa dilepaskan dari relasi manusia dengan alam. “Harapannya, muncul kepedulian yang lebih luas, supaya kita bisa berbicara dalam konteks yang juga mencakup kelestarian alam,” ucapnya.

