- Teks: Aldi Ihtihsan
- Foto: Hajrian Syah/Facebook
- Misbach Tamrin menggelar pameran tunggal kedua di Banjarmasin sebagai tonggak perjalanan hampir tujuh dekade berkarya sejak 1957.
- Pameran menampilkan belasan karya terbaru yang dibuat dalam tiga bulan terakhir serta beberapa karya lama, menampilkan evolusi gaya dari impresionistik hingga realisme revolusioner.
- Bertajuk Rindang Banua, pameran ini menjadi cara Misbach merayakan kerinduan pada tanah kelahiran melalui lanskap, sungai, pasar terapung, kota, dan ingatan perjalanan hidupnya.
BANJARTIMES– Maestro seni rupa Kalimantan Selatan dan eks tahanan politik (tapol) Orde Baru, Misbach Tamrin, bersiap menggelar pameran tunggal keduanya menjelang akhir tahun ini. Pameran tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan kariernya yang telah menembus hampir tujuh dekade berkarya.
Pameran ini mengusung tajuk Rindang Banua. Tema tersebut merujuk pada “karindangan”, kata dalam bahasa Banjar yang menggambarkan kerinduan mendalam terhadap tanah asal. “Inilah rindu pada tanah pulang, banua yang melahirkan dan membesarkannya meski sempat ditinggal ‘madam’,” tulis Hajrian Syah, kurator pameran tunggal Rindang Banua.
Menurut Hajri, ini adalah pameran tunggal kedua Misbach setelah yang pertama digelar di Jakarta pada 2015. Juga menjadi pameran perdana Misbach di Kalimantan Selatan, kampung halamannya. Momen itu menjadi tonggak sejarah, karena baru tercapai setelah puluhan tahun berkarya sebagai pelukis.
“Pameran yang pertama digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta sepuluh tahun yang lalu (2015),” kata Hajri. Ia mengenang kehadiran para sahabat yang turut menyaksikan momen bersejarah itu dan merayakan perjalanan panjang sang seniman.
Misbach dikenal publik seni melalui Sanggar Bumi Tarung, kelompok seni berhaluan realisme kerakyatan yang menempatkannya sebagai salah satu tonggak terakhir angkatan itu. “Selama ini Misbach dikenal karena Sanggar Bumi Tarung, sanggar yang membesarkan namanya hingga dicatat sebagai the last man standing,” tulis Hajrian.
Namun pada pameran kali ini, Misbach tampil sebagai individu dengan nama dan identitas kreatifnya sendiri. Ia kembali pada gaya awal yang dipelajari dari gurunya, Gt. Sholihin, dengan sentuhan impresionistik dalam karya-karya terbarunya. Hajrian mencatat bahwa karakter revolusioner Misbach tetap terasa meski menghadirkan tema-tema alam, kota, sungai, dan lanskap Banua. “Yang tersisa dari realisme revolusioner-nya adalah ‘romantisme revolusioner’,” tulisnya.
Sebanyak 11 lukisan baru berukuran besar dan satu lukisan bertema Pejuang Banjar berukuran 1,2 x 3 meter dipamerkan. Semua dikerjakan dalam tiga bulan terakhir.
Selain karya terbaru, pameran ini juga menampilkan beberapa lukisan lama, termasuk yang dibuat pada 1978 tak lama setelah Misbach keluar dari penjara Orde Baru. “Dari timeline inilah kita akan melihat jejak impresionisnya hingga realisme revolusioner,” catat Hajrian.
Hajrian menyebut pameran ini bukan sekadar pameran karya terbaru, melainkan penanda napak tilas perjalanan kreatif Misbach sejak ia ikut pameran bersama di Societeit de Kapel Banjarmasin pada 1957.
Pameran tunggal “Rindang Banua” akan dihelat mulai 23-30 November 2025 di Gedung Wargasari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin dan terbuka untuk umum serta gratis.

