‘Kami Kesulitan Gelar Upacara’: Kala Halaman Sekolah di Pekapuran Raya Terendam Tiap Musim Hujan

  • Teks: Riyad Dafhi R.
  • Foto: Riyad/Banjartimes
  • Genangan di kawasan rendah Banjarmasin kembali menegaskan persoalan drainase kota, daya tampung sungai menurun dan saluran tidak mampu membuang air hujan secara cepat.
  • Halaman SDN Pekapuran Raya 2 kembali terendam setiap musim hujan, aktivitas siswa terganggu dan sekolah kesulitan melakukan perbaikan karena keterbatasan anggaran.
  • Penanganan membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk normalisasi sungai, pembenahan saluran lingkungan, serta koordinasi instansi terkait agar fasilitas pendidikan tidak terus terdampak.

BANJARTIMES– Masalah genangan di kawasan dataran rendah Kota Banjarmasin terus muncul saban musim hujan. Daya tampung sungai berkurang, saluran air tidak bekerja efektif, dan permukiman berkembang di lahan ber-elevasi rendah. Akibatnya, air mudah berkumpul dan sulit surut. Dampaknya langsung terasa di fasilitas publik, termasuk sekolah, salah satunya SD Negeri Pekapuran Raya 2.

Di sekolah yang berada tepat di tepi Sungai Guring itu, air setinggi mata kaki kembali menutup halaman pada Rabu (19/11). Area yang seharusnya menjadi ruang aktivitas siswa tampak seperti kolam dangkal, lengkap dengan ikan kecil yang berenang dan telur gondang menempel di permukaan halaman yang licin dipenuhi lumut. Kondisi ini disebut telah berlangsung bertahun-tahun dan baru mengering saat cuaca panas.

Letak sekolah yang rendah, kemiringan lahan minim, serta drainase lingkungan yang tidak berjalan optimal membuat luapan air lambat surut.

“Sebagai orang tua murid, saya sangat prihatin. Ini membuat aktivitas anak-anak terbatas. Sekadar berolahraga saja tidak bisa,” kata Arbainah.

Keluhan serupa disampaikan murid, Selma. “Kami jadi kesulitan upacara, olahraga, dan kegiatan lainnya. Saya iri melihat situasi sekolah lain,” ujarnya.

Kepala sekolah, Sumiati, menuturkan pihaknya tidak mampu melakukan perbaikan secara mandiri. Pada 2024, sekolah sempat merencanakan anggaran sekitar Rp4,5 juta untuk penanganan awal, tetapi rencana itu urung dijalankan. “Setelah dihitung-hitung, bila uang itu dikucurkan untuk perbaikan, maka dana operasional sekolah yang tidak cukup,” jelasnya.

Harapan pernah muncul ketika Wali Kota Banjarmasin sebelumnya, Ibnu Sina, sempat meninjau kondisi sekolah. “Namun hingga beliau purna tugas, perbaikan tak kunjuk terealisasi,” ujar Sumiati.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarmasin, Ryan Utama belum memberikan respons terkait kondisi yang terjadi di SDN Pekapuran Raya 2.

Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin, Nelly Listriani, menyebut pihaknya akan lebih dulu berkoordinasi ke Dinas Pendidikan Banjarmasin perihal masalah ini. “Kalau perlu melihat dulu ke lapangan membawa disdik,” ujar Nelly secara singkat.***