- Teks: Riyad Dafhi R.
- Foto: Riyad/Banjartimes
- Umat Hindu di Pura Jaga Natha Banjarmasin menjalankan ibadah Galungan dengan ritual dan suasana khidmat, diiringi tabuhan gamelan serta persembahan buah dan bunga.
- Perayaan Galungan dilaksanakan setiap 210 hari sekali, menjadi simbol kemenangan kebaikan atas keburukan, termasuk rangkaian ritual seperti Tumpek Pengatag dan Penampahan Galungan.
- Pengurus Pura mengajak umat menjaga harmoni, membersihkan diri dari sifat buruk, serta merawat kedamaian antarumat beragama.
BANJARTIMES— Langit biru perlahan meredup di atas Pura Jaga Natha, Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin Timur, Rabu (19/11). Hembus anginnya membawa harum dupa yang menyebar ke seluruh halaman.
Di salah satu sudut, sekelompok pria duduk rapi menabuh gamelan. Dentingan musiknya riuh, menyambut ratusan umat Hindu yang datang untuk sembahyang memperingati Hari Raya Galungan.
Mereka hadir dengan pakaian khas. Laki-laki mengenakan baju putih dan sarung lengkap dengan ikat kepala, sementara perempuan berhias kebaya yang tampak anggun.
Eka, salah satu penganut agama Hindu di Banjarmasin bilang pada hari raya ini, banyak harapan yang ingin dimunajatkannya kepada Dewa. “Semoga bisa menjadi manusia yang lebih baik, selalu diberkati kesehatan, berlimpah rezeki, dan dilimpahkan kebaikan,” katanya.
Ketika senja mulai turun, satu per satu umat bersila menghadap pelinggih yang diselimuti wastra kuning. Di bawahnya, tersusun rapi aneka persembahan, dari buah, bunga, dan rangkaian sesajen lainnya.
Wakil Ketua Pengurus Pura Jaga Natha Banjarmasin, Made Supana menjelaskan, Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali, sesuai penanggalan agama Hindu. “Galungan merupakan hari di mana kebaikan mengalahkan kebathilan,” katanya.
Maka untuk menyambutnya, berbagai ritual telah digelar jauh-jauh hari. Sekitar 25 hari sebelum Galungan, dilaksanakan Tumpek Pengatag, yaitu penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang agar hasil bumi bisa berlimpah untuk persembahan hari raya.
Senin kemarin, umat memulai Penampahan Galungan, sebuah ritual simbolis untuk membersihkan diri dari Sang Kala Tiga yang melambangkan sifat-sifat buruk.
“Secara simbolis, kami memotong hewan—khususmya babi yang menjadi lambang usaha memotong sifat malas dan buruk yang ada dalam diri manusia,” ujarnya.
Perayaan Galungan menandai kemampuan manusia mengendalikan diri dan sifat buruk, sehingga kehidupan yang akan datang menjadi lebih harmonis.
“Untuk itu, kami berharap umat untuk senantiasa menjaga diri serta merawat harmoni dan kedamaian antarumat beragama,” tutupnya.***

