Melihat Sisi Lain Bapak Republik yang Terlupakan lewat Novel “Patah Hati Tan Malaka”

  • Teks: Riyad Dafhi Rizki
  • Foto: Riyad/Banjartimes
  • Mantan wartawan Radar Banjarmasin, Muhammad Syarafuddin (Iput), lewat Patah Hati Tan Malaka mengeksplorasi kesepian dan kehidupan batin Tan Malaka, terutama relasi percintaannya, yang hampir tidak disentuh sejarah. Fiksi digunakan untuk menambal kekosongan naratif tanpa merusak gagasan atau perjuangan politik Tan.
  • Novel ini tetap mempertahankan fakta sejarah dan pemikiran Tan Malaka, seperti Madilog dan fase Persatuan Perjuangan, meski beberapa detail, termasuk rute pelarian, direkonstruksi demi alur cerita. Tokoh sejarah hadir dengan nama asli, sementara sisi romansa adalah hasil imajinasi.
  • Iput menulis novel ini sebagai hasil ketertarikan historis dan literasi kiri, bukan fanatisme terhadap Tan Malaka. Ia juga menyadari adanya motif komersial, tapi harapannya sederhana: mendorong pembaca membuka buku sejarah setelah menutup novelnya.

BANJARTIMES– Tan Malaka lebih sering dikenang sebagai ideolog keras kepala yang hidup berpindah-pindah, dikejar aparat kolonial, dan berseberangan dengan banyak elite republik. Hidupnya adalah rangkaian pelarian: berganti negara, menyamarkan identitas, dan bersembunyi demi gagasan yang ia yakini. Di balik riwayat politik itu, ada ruang sunyi yang nyaris tak pernah disentuh sejarah: kesepian seorang Tan.

Ruang itulah yang dimasuki Muhammad Syarafuddin lewat novel Patah Hati Tan Malaka. Setelah 15 tahun bekerja sebagai wartawan, Syarafuddin—yang akrab disapa Iput—memilih jalur fiksi untuk menafsirkan sisi personal Tan Malaka. Novel setebal sekitar 300 halaman ini diterbitkan Rain Publishing dan mulai beredar awal 2026.

Iput tampak keberatan ketika karyanya dilabeli sebagai “novel sejarah”. Baginya, istilah itu rancu. “Novel adalah fiksi. Sementara sejarah adalah non fiksi, masa lalu yang faktual,” ujarnya, akhir Januari lalu.

Meski begitu, novel ini dipenuhi tokoh-tokoh nyata: Semaun, Musso, Cokroaminoto, Sukarno, Sjahrir, hingga Jenderal Sudirman. Semua hadir dengan nama asli, bergerak dalam lanskap sejarah Indonesia yang dikenali pembaca. Lantas, di mana letak fiksinya? “Dalam kisah cintanya,” kata Iput singkat.

Tan Malaka memang pernah menyebut beberapa nama perempuan dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara: Nona Carmen di Manila dan Gadis AP di Xianmen. Majalah Tempo dalam edisi khusus Bapak Republik yang Dilupakan juga mencatat relasinya dengan Syarifah Nawawi di Bukittinggi serta Paramita Rahayu di Jakarta. Sejarawan Harry A. Poeze menambahkan satu nama lain: Fenny Struijvenberg di Haarlem, Belanda.

Namun semua itu berhenti sebagai catatan singkat. Tan tak pernah mengurai relasi-relasi tersebut secara mendalam. Menurut Iput, hal itu masuk akal. Tan adalah buronan politik. “Tan seorang lelaki kesepian, tapi harga dirinya tinggi. Tak terbayang Tan curhat kepada pembaca tentang kegagalannya dalam percintaan di otobiografinya,” katanya.

Di celah itulah fiksi bekerja. Iput mengimajinasikan kehidupan batin Tan, membangun romansa dengan Syarifah, Fenna, Carmen, AP, dan Paramita—bukan sebagai upaya menulis ulang sejarah, melainkan menambal kekosongan naratif. “Dengan fiksi, saya bisa menambal lubang-lubang dalam kehidupan pribadi Tan yang tak terceritakan oleh sejarawan,” ujarnya. Ia menempatkan Tan sebagai manusia biasa: bisa galau, rapuh, dan membutuhkan sentuhan fisik.

Pilihan itu membuat batas antara fiksi dan nonfiksi menjadi lentur. Beberapa detail sejarah pun direkonstruksi ulang demi kepentingan cerita. “Contoh rute pelarian Tan selama di luar negeri, saya rombak ulang untuk menjaga plot novel ini,” kata Iput.

Namun ada batas yang ia jaga ketat. Pemikiran dan perjuangan Tan Malaka tidak ia fiksikan. Ketika mengulas Madilog, misalnya, Iput hanya menyederhanakan intisarinya tanpa mencampur adukkan gagasan Tan dengan imajinasi. Begitu pula saat menulis fase Persatuan Perjuangan. “Kendati ini novel, tetap saja saya tidak berani merusak legasi Tan Malaka untuk bangsa ini,” ujarnya.

Soal riset, Iput mengaku tak punya waktu terlalu panjang. Tapi ia tak sepenuhnya datang dengan tangan kosong. Literatur kiri bukan wilayah asing baginya. Ia pertama kali membaca Madilog sekitar 16 tahun lalu, saat menjalani KKN di desa perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. “Materialisme, Dialektika, dan Logika adalah buku tebal yang tidak mudah dibaca. Baru di desa kecil itu saya bisa mengkhatamkan Madilog,” kenangnya.

Ia mengaku tak pernah benar-benar menjadi “penggemar” Tan Malaka. “Saya lebih condong ke Bung Hatta,” kata alumni Fakultas Dakwah IAIN Antasari ini. Untuk membangun latar historis, ia banyak merujuk Nasionalisme dan Revolusi Indonesia karya George McTurnan Kahin serta Kemunculan Komunisme Indonesia karya Ruth T. McVey.

Di tengah iklim yang masih sensitif terhadap isu kiri, apakah ia khawatir dicap menyebarkan paham terlarang? Iput justru tertawa. “Komunisme adalah ideologi yang sudah bangkrut. Uni Soviet sudah runtuh. China semakin kapitalis. Kita tidak perlu takut dengan hantu dari masa lalu,” katanya.

Ia juga tak menampik motif komersial. Novel ini hadir di saat minat terhadap Tan Malaka kembali naik, ditandai meningkatnya penjualan Madilog dan Naar de Republiek. Ketika itu disinggung, Iput mengangguk. “Ya, Anda benar. Saya tidak bisa menyangkal motif komersial itu.”

Apa yang ingin ia berikan kepada pembaca? Iput sempat terdiam, menata kata. “Sejujurnya, saya tidak tahu. Saya juga takut terdengar muluk,” katanya. Ia hanya berharap satu hal sederhana: setelah menutup novel ini, pembaca terdorong membuka buku sejarah.

“Sebab Tan Malaka, Hatta, Natsir, Buya Hamka, dan Agus Salim adalah raksasa-raksasa yang pernah berjalan di atas bumi Indonesia.