Nonton Bareng Film Antikorupsi, Upaya KPK Dorong Kesadaran Anak Muda Banjarmasin

  • Teks: Donny Muslim
  • Foto: Dok/Banjartimes
  • Pemutaran film antikorupsi dalam ACFFEST Movie Day 2026 di Banjarmasin menyasar anak muda sebagai upaya menanamkan nilai integritas sejak dini.
  • Kegiatan yang digagas Komisi Pemberantasan Korupsi bersama Forum Sineas Banua menggunakan film sebagai media edukasi yang lebih mudah diterima dibanding ceramah.
  • Kampanye ini juga menyasar lingkungan pendidikan, dengan harapan membentuk kesadaran antikorupsi di tengah berkembangnya pola dan modus korupsi, termasuk di era digital.

BANJARTIMES— Puluhan anak muda menyaksikan pemutaran film bertema antikorupsi dalam rangka Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) Movie Day 2026 di Wetland Square, Jalan A Yani Kilometer 3,5, Banjarmasin, Selasa (7/4) malam.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini melibatkan komunitas lokal Forum Sineas Banua sebagai mitra pelaksana.

Pemutaran tersebut menandai dimulainya rangkaian ACFFEST Movie Day 2026 di Kalimantan Selatan. Program yang telah memasuki tahun ke-12 ini kembali digelar dengan menyasar generasi muda sebagai bagian dari upaya menanamkan nilai integritas sejak dini.

Ketua Forum Sineas Banua, Munir Shadikin, mengatakan film menjadi medium yang dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat.

“Pesan antikorupsi disampaikan secara subtil, tidak menggurui, sehingga lebih mudah diterima penonton. Ini juga menjadi cara bagi KPK untuk memperkuat kampanye antikorupsi,” ujarnya.

Selain di ruang publik, kegiatan serupa juga digelar di lingkungan pendidikan, seperti Pondok Pesantren Al-Falah dan GIBS Islamic Boarding School. Menurut Munir, pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan peran lembaga pendidikan dalam pembentukan karakter.

“Kami sengaja menyasar sekolah-sekolah berasrama, karena dinilai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Penyuluh Faksi Antikorupsi Madya dari LSP KPK, Rabiatul Adawiyah, menjelaskan pendekatan melalui film dipilih karena lebih kontekstual dibandingkan metode ceramah.

Film, menurut dia, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami praktik ketidakterbukaan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan film, semua kalangan bisa masuk. Kita ingin menumbuhkan bibit-bibit berintegritas. Koruptor saja bisa beregenerasi, masa kita tidak bisa membangun agen-agen yang berintegritas,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pola korupsi terus berkembang, termasuk dalam sistem yang semakin terdigitalisasi. Dalam situasi tersebut, aspek integritas individu dinilai tetap menjadi faktor kunci.

“Modusnya terus berkembang. Karena itu, kesadaran menjadi penting,” pesannya.