- Teks: Harfin Shad
- Foto: AJI Persiapan Banjarmasin
- Sekolah Jurnalisme Warga “Jurnalisme Akar Rumput” digelar di Desa Lok Lahung, Loksado, untuk membantu masyarakat adat menyampaikan persoalan ruang hidup, budaya, dan layanan dasar yang selama ini minim terdengar di media arus utama.
- Warga mengangkat berbagai persoalan, mulai dari jalan rusak, sinyal komunikasi yang sering hilang, keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga kekhawatiran menyuarakan isu lingkungan dan aktivitas tambang karena takut intimidasi.
- Melalui pelatihan menulis, audiovisual, dan berpikir kritis, warga didorong mendokumentasikan cerita mereka sendiri agar kondisi masyarakat adat Meratus lebih dikenal publik dan tidak terus dipahami dari sudut pandang luar.
BANJARTIMES— Warga Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berkumpul dalam Sekolah Jurnalisme Warga bertajuk “Jurnalisme Akar Rumput”. Kegiatan yang berlangsung dari 8-10 Mei 2026 itu menjadi ruang belajar bagi masyarakat adat untuk mendokumentasikan persoalan, perubahan lingkungan, hingga kehidupan sehari-hari mereka sendiri.
Sekolah jurnalisme warga tersebut digelar di tengah kekhawatiran masyarakat adat terhadap minimnya ruang bagi suara warga Pegunungan Meratus di media arus utama, terutama ketika wacana penetapan sebagian wilayah Meratus sebagai kawasan taman nasional terus berkembang.
Kegiatan ini diinisiasi sejumlah lembaga dan komunitas, di antaranya Basis, Yappika, Sepaham Indonesia, AJI Persiapan Banjarmasin, Pusham ULM, serta Forum Multi Pihak Kota Banjarmasin. Selain warga adat, kegiatan juga melibatkan mahasiswa, perangkat desa, aktivis muda, dan penggerak komunitas.
Dari Jalan hingga Payahnya Akses Pendidikan-Kesehatan
Sejak sesi diskusi dibuka pada Jumat (8/5/2026) malam, warga mulai menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Mulai dari kondisi jalan yang rusak, minim penerangan, sinyal komunikasi yang kerap hilang, hingga keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan.
Pinasti, warga Loksado yang mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan sekolah jurnalisme warga membuatnya lebih berani menyampaikan cerita tentang kondisi masyarakat Dayak Meratus dan Desa Lok Lahung.
Ia mengaku sebelumnya belum mengenal jurnalisme warga. Melalui kegiatan ini, ia berharap persoalan yang terjadi di Loksado dapat lebih dikenal masyarakat luas.
“Pembangunan jalan masih kurang, fasilitas sekolah belum memadai, jalan-jalan yang gelap juga belum dipasang listrik, dan sinyal juga sering hilang,” ujarnya.
Selain persoalan infrastruktur dasar, warga juga menyinggung isu yang lebih sensitif, seperti persoalan sampah hingga larangan manyalukut—tradisi membakar lahan untuk manugal atau bercocok tanam padi gunung—yang kini berhadapan dengan regulasi pemerintah.
Kepala Desa Lok Lahung, Ibas, berharap pelatihan tersebut menjadi bekal bagi generasi muda desa untuk menyampaikan pengalaman mereka secara aman dan bertanggung jawab.
“Harapannya, pemuda di sini bisa belajar menulis dengan baik dan aman untuk menyampaikan apa yang mereka alami sendiri,” ujarnya.

Warga adalah Sumber Cerita Terbaik
Koordinator AJI Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna, menilai jurnalisme warga penting karena banyak wilayah pelosok belum terjangkau media arustama secara memadai. Dalam situasi itu, warga menjadi pihak yang paling dekat dengan persoalan di daerahnya sendiri.
“Warga desa adalah sumber informasi terdekat dengan persoalan nyata di wilayah mereka, namun selama ini suara itu jarang terdengar sampai ke luar,” ungkap Rendy.
Program Officer BaSiS (Building Enabling Environment and Strong Civil Society), Netty Herawati, mengatakan masyarakat adat memiliki pengetahuan yang paling dekat dengan lingkungan dan tradisi mereka sendiri.
Menurutnya, kemampuan warga membangun narasi secara mandiri menjadi penting agar kehidupan masyarakat adat tidak terus dipahami secara keliru oleh pihak luar.
“Masyarakat adat adalah pihak yang paling memahami lingkungan, hukum, dan tradisi mereka sendiri. Karena itu, pengetahuan ini perlu disebarluaskan secara mandiri melalui teknologi yang ada,” ujar dosen FISIP ULM Banjarmasin tersebut.
Perwakilan Pusham ULM Banjarmasin, Arisandy Mursalin, mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah amanat konstitusi. Dengan bekal pengetahuan dari kegiatan ini, warga diharapkan memiliki keberanian untuk menyoroti realitas di sekitar mereka—khususnya mengenai hak-hak warga negara yang sering terabaikan, seperti akses kesehatan dan pendidikan.
Muktiono dari Sepaham Indonesia mengatakan perkembangan media sosial membuat warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk menyampaikan cerita dan kritik sosial mereka sendiri.
“Kita belajar bagaimana menyuarakan apa yang ada di sekitar kita, mulai dari potensi wisata hingga kritik sosial, dengan cara yang efektif dan tetap aman,” ungkapnya.

Belajar Berpikir Kritis, Merekam, hingga Menulis
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat tiga materi utama, yakni berpikir kritis dan kesadaran hukum oleh Budi Kurniawan, audiovisual jurnalistik oleh Ari Arung Purnama, serta penulisan berita dan penggalian informasi oleh Jumarto Yulianus.
Menurut Budi, berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga berkaitan dengan keberanian mempertanyakan keadaan dan memahami relasi kuasa di sekitar masyarakat.
Ia juga menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi secara mentah, terutama di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan sosial yang cepat. Dalam pemaparannya, Budi turut menjelaskan sejumlah prinsip yang menurutnya menjadi modal dasar dalam menulis dan membangun kerja-kerja jurnalisme warga.
Budi Kurniawan mengingatkan peserta agar berhati-hati ketika menyampaikan kritik di ruang digital. Ia meminta warga tetap memahami aspek keamanan hukum saat membuat informasi.
“Kritis itu harus berargumen kuat. Hindari menyebut nama secara langsung, merekam anak kecil, atau menyinggung SARA,” pesannya.
Sesi kedua pada hari kedua Sekolah Jurnalisme Warga menghadirkan Ari Arung Purnama dengan materi mengenai audiovisual dan mobile journalism.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar produksi video jurnalistik menggunakan perangkat sederhana, terutama telepon genggam. Materi difokuskan pada cara mendokumentasikan peristiwa secara visual dengan pendekatan jurnalistik.
Pemateri juga menekankan bahwa kerja audiovisual dalam jurnalisme warga tidak selalu membutuhkan peralatan mahal, melainkan kemampuan membaca momen, menentukan sudut pandang, dan menyusun cerita secara visual.
Setelah sesi materi selesai, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diisi campuran antara warga lokal dan perwakilan komunitas atau organisasi yang mengikuti workshop.


Sementara itu, Jumarto menekankan pentingnya sikap skeptis dalam mencari informasi. “Seorang jurnalis jangan langsung menelan mentah informasi. Cari fakta sebenarnya di lapangan,” tegasnya.
Dalam sesi tersebut, Jumarto bertanya kepada peserta apakah mereka memiliki blog pribadi atau media untuk menyalurkan tulisan maupun konten mereka sendiri.
Sebagian besar peserta mengaku belum memiliki blog pribadi. Namun beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka aktif menggunakan media sosial maupun akun komunitas untuk memproduksi konten.
Salah satu warga memperkenalkan akun “Banyu Sabumi” di TikTok yang berisi konten mengenai kearifan lokal, aktivitas memetik buah, alam Loksado, serta kehidupan masyarakat di Hulu Sungai Selatan. Ia kemudian mengingatkan hal ini bisa menjadi modal awal untuk menyalurkan produk jurnalisme warga.
Apa Kata Peserta?
Peserta, Robiansyah dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Banjar, menilai kegiatan seperti ini penting karena masyarakat adat sering berada dalam posisi rentan ketika ingin menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Menurutnya, di sejumlah daerah masih terdapat aktivitas tambang yang membuat warga takut bersuara karena khawatir mengalami intimidasi.
“Jadi serba salah, kami ingin melaporkan secara publik takut adanya intimidasi. Secara media aja biar jadi perhatian pemerintah,” ucapnya.
Widya Kasnadi dari Aksi Kamisan Banjarbaru mengatakan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk mendengar langsung cerita warga dan melihat bagaimana budaya masyarakat adat masih dijaga hingga sekarang.
“Saya terkesan dengan warga di sini karena mereka masih menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia berharap sekolah jurnalisme warga dapat terus berjalan agar semakin banyak cerita dari masyarakat desa yang sampai ke publik.
“Harapannya sekolah jurnalisme warga ini bisa terus ada, jadi informasi dari masyarakat juga bisa lebih banyak tersampaikan,” ucapnya.
Widya juga ingin membawa berbagai cerita dan persoalan dari Lok Lahung kepada jaringan komunitas di kota agar lebih banyak orang mengetahui kondisi masyarakat adat Meratus.
“Saya ingin membawa isu-isu dari sini ke kawan-kawan kolektif supaya bisa sama-sama menyuarakan. Karena masih banyak orang di kota yang belum mendengar cerita dari masyarakat di sini,” katanya.
Pada hari terakhir kegiatan, peserta turun langsung melakukan peliputan sederhana di sekitar desa. Bagi sebagian warga, pengalaman tersebut menjadi kali pertama mereka mencoba menulis dan mendokumentasikan cerita tentang kampungnya sendiri.
Anita, salah satu peserta dari warga setempat, mengatakan pelatihan itu membuatnya menyadari bahwa kehidupan sehari-hari di desanya memiliki nilai penting untuk diketahui publik.
“Kami sadar bahwa keadaan di sini penting diketahui orang luar. Harapannya, isu yang kami sampaikan bisa didengar oleh pemerintah,” ungkap Anita.


