- Teks: Donny Muslim
- Foto: PDWA FISIP ULM
- FISIP ULM menggelar forum diskusi tentang maraknya media agregator dan homeless media di Banjarmasin, dengan melibatkan jurnalis, mahasiswa, dan organisasi profesi pers.
- Forum tersebut membahas tantangan ekosistem media digital, mulai dari persoalan etika jurnalistik, akurasi informasi, hingga kerentanan hukum di tengah derasnya arus informasi media sosial.
- Tim Program Dosen Wajib Mengabdi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP ULM juga tengah menyiapkan riset dan rekomendasi kebijakan terkait tata kelola media digital dan perkembangan homeless media di Indonesia.
BANJARTIMES— Perkembangan media digital di Banjarmasin memunculkan kekhawatiran baru di kalangan akademisi dan pegiat pers. Maraknya media agregator dan homeless media dinilai menghadirkan tantangan terhadap kualitas informasi, etika jurnalistik, hingga perlindungan hukum bagi pengelolanya sendiri.
Keresahan itu mendorong tim Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat menggelar forum diskusi bertajuk “Penguatan Peran Akun Media Sosial Homeless Media dalam Ekosistem Media Lokal Banjarmasin” pada Senin (11/5/2026) di FISIP ULM.
Forum tersebut mempertemukan pengelola media, mahasiswa, organisasi profesi pers, serta perwakilan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalsel dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin.
Ketua tim PDWA Prodi Ilmu Komunikasi FISIP ULM, Bambang Dwi Waluyo, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari diskusi bersama AJI di Banjarbaru pada tahun sebelumnya. Dalam diskusi itu, muncul kegelisahan mengenai tumbuhnya media agregator dan homeless media yang belum memiliki pijakan aturan, etika, maupun norma jurnalistik yang jelas dalam ekosistem media lokal.
“Awalnya kami berdiskusi soal media agregator dan homeless media yang posisinya di ekosistem media lokal belum terkontrol secara aturan, etika, dan norma. Keberadaannya juga rentan terhadap persoalan hukum,” ujar Bambang.
Menurutnya, perkembangan media berbasis media sosial membuat produksi dan distribusi informasi menjadi semakin mudah. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan baru terkait akurasi informasi, tanggung jawab publik, hingga perlindungan hukum terhadap pengelola akun media digital.
Dari keresahan tersebut, tim PDWA mencoba membuka ruang dialog dengan para pengelola media agregator dan homeless media, sekaligus membahas tantangan yang dihadapi media digital saat ini.
Bambang mengatakan kegiatan itu juga berkaitan dengan riset yang sedang dilakukan tim PDWA mengenai perkembangan akun agregator dan homeless media di Banjarmasin. Penelitian dan pendampingan disebut berpeluang dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan jejaring dari berbagai daerah di Indonesia.
Berharap Hasilkan Rekomendasi Kebijakan
Tim PDWA Prodi Ilmu Komunikasi FISIP ULM terdiri dari Bambang Dwi Waluyo sebagai ketua, dengan anggota Muhammad Nizar Hidayat, Ahmad Bayu Chandrabuwono, Fahrianor, dan Noviana Sari.
Menurut Bambang, rangkaian pengabdian dan penelitian tersebut diharapkan dapat menghasilkan policy paper atau rekomendasi kebijakan bagi pemerintah terkait pengelolaan ekosistem media digital, terutama menyangkut media agregator dan homeless media di daerah.
Ia menilai pembahasan mengenai media digital tidak lagi hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kualitas informasi yang diterima publik di tengah derasnya arus konten media sosial.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang beririsan langsung dengan persoalan nyata di tengah perkembangan media digital saat ini,” katanya.***

