- Teks: Harfin Shad
- Foto: Riyad Dafhi/Banjartimes
- Penyunting: Muhammad Syarafuddin
Hujan mulai turun, kebakaran padam, dan kabut asap menipis. Namun, setelah menghirup kabut asap selama berbulan-bulan, ada risiko kesehatan yang harus kita bayar di masa depan. Sementara di masa sekarang, muncul penderitaan-penderitaan yang tak cukup dijelaskan lewat data dan angka.
SEJAK kabut asap beracun menyelimuti Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, pasangan Muhammad Taufik Akbar dan Nurliana harus menutup rapat-rapat celah-celah di pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Pendingin ruangan dan penyaring udara (air purifier) pun terus menerus dinyalakan.
Itu semua demi kesehatan anak pertama mereka yang baru berumur dua bulan. Namun, awal Oktober 2026, ketika asap semakin pekat, bayi malang itu jatuh sakit. Batuk-batuk dan demam dengan mata membengkak.
Nurliana kemudian mengunggah kondisi anaknya di media sosial Threads. Unggahan itu direspons ribuan warganet. “Itu puncak stres saya,” ujar Nurliana kepada Banjartimes pada Rabu (14/10) siang.
Hasil pemeriksaan dokter, bayi berusia 65 hari itu menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara itu, ayahnya juga mengalami batuk parah, terkadang disertai dahak berdarah.
“Hampir 24 jam kabut asapnya. Pagi tebal dan siang mulai menipis, sorenya mulai menebal lagi sampai malam,” tutur Taufik.
Ini bukan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pertama yang melanda Kalimantan. Tapi, menurut Taufik dan Nurliana, tahun ini berbeda. Lebih parah, lebih lama, dan membawa dampak psikologis seperti stres berkepanjangan.
“Sudah capek kerja, ditambah lagi mengurus yang sakit di rumah. Selama tiga bulan ini benar-benar sabar ya, tapi ketika anak sakit, psikis saya sampai terganggu,” ungkap Nurliana.

***
Sekitar 40 kilometer dari rumah Nurliana dan Taufik, kondisi serupa juga dirasakan keluarga Rico, warga Kompleks Persada Permai, Desa Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.
Sejak kebakaran lahan melanda kawasan Handil Bakti, Rico membatasi aktivitas bermain anak-anaknya di luar rumah. “Dilarang anak-anak ke luar, bahkan untuk bermain di teras sudah dibatasi,” katanya, Jumat (9/10).
Si bungsu yang baru berumur 41 hari pun jatuh sakit. “Anak-anak batuk kering dan pilek,” imbuh pria 40 tahun itu. Rico dan istrinya, Putri (40) membesarkan empat anak.
“Belakangan kondisi di Batola mulai parah. Kabut asap belum sempat hilang, muncul lagi kebakaran. Nyaris tidak ada jeda,” ujarnya.
Kabut asap juga mengganggu pendidikan. Sudah sebulan, anak-anak Rico yang bersekolah di SDN Semangat Dalam 3 tidak bisa masuk kelas dan harus belajar daring di rumah.
Bila kondisi ini berlarut-larut, Rico mengaku mulai khawatir dengan pendidikan anak-anaknya.
Dia berharap, pemerintah bisa lebih cepat dan gesit memadamkan kebakaran, dan ke depan bisa mengantisipasi agar bencana serupa tidak berulang.


Korban Jiwa
Di Kota Banjarmasin, seorang guru muda, Lisna yang memiliki riwayat asma, jatuh sakit dan meregang nyawa di tengah kualitas udara yang memburuk.
Mendiang mengajar di SDN Tanjung Pagar 3. Dari rumahnya di Sungai Andai, perempuan 27 tahun itu menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Naik motor menerobos kabut asap.
Ibunya, Marhamah menuturkan, asma Lisna semakin sering kambuh sejak kabut asap melanda. Hampir setiap hari almarhumah menggunakan nebulizer. “Tahun ini yang parah. Kalau tahun-tahun sebelumnya tidak separah ini,” kata Marhamah, Selasa (6/10).
Kesehatan Lisna memburuk hingga beberapa kali meminta izin tidak mengajar. Kepala sekolah, Zainal Abidin Asmari membenarkan, Lisna mulai mengeluhkan asmanya yang sering kambuh sejak 21 September. Sekolah kemudian memberikan izin.
Pada malam jelang kepergiannya, Lisna mengeluhkan nyeri di dada dan kesulitan bernapas. Marhamah memberikan pertolongan pertama dengan nebulizer, tapi sesaknya tak kunjung mereda.
Keluarga lalu bersiap membawanya ke rumah sakit. Sebelum berangkat, Lisna sempat menyampaikan pesan kepada ibunya untuk menjaga putrinya yang masih berusia lima tahun.
“Mah, padahkan lawan Abah, lawan Aa, tolong jagakan anak ulun,” kata Marhamah menirukan pesan terakhir putrinya.
Lisna dibawa ke RSUD Ansari Saleh di Banjarmasin Utara, namun nyawanya tidak tertolong.
Kerugian Triliunan Rupiah
Di Kalimantan Selatan, sepanjang Januari hingga Oktober, tercatat 78.894 kasus ISPA. Bahkan, muncul 10 ribu kasus selama lima pekan berturut-turut hingga pertengahan Oktober. Menjadi yang tertinggi di pulau ini, melampaui Kalimantan Barat (55.686 kasus), Kalimantan Timur (27.688 kasus), dan Kalimantan Tengah (26.740 kasus).
Studi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bertajuk Membakar Hutan, Hanguskan Ekonomi: Dampak Karhutla terhadap Biaya Ekonomi dan Biaya Kesehatan memperkirakan, dari sekitar 4,07 juta penduduk Kalsel, hampir 80 ribu orang berpotensi mengalami ISPA yang terdiagnosis tenaga medis.
Dalam skenario tersebut, biaya kesehatan ditaksir mencapai Rp430 miliar. Bisa lebih besar, mengingat tidak semua warga memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. CELIOS memperkirakan jumlahnya mencapai 1,41 juta orang atau 34,71 persen dari total populasi.
Jika biaya pengobatan dan kehilangan produktivitas turut dihitung, total beban ekonomi dan kesehatan ditaksir mencapai Rp7,58 triliun.
Studi itu juga mengemukakan temuan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Dari rata-rata 60 pemeriksaan foto rontgen dada setiap hari, sepertiga menunjukkan indikasi gangguan pernapasan. Temuan ini juga mencatat peningkatan pneumonia pada kelompok anak-anak dan lansia.
Sebagai perbandingan, data Kementerian Kesehatan hingga 17 Oktober 2026 mencatat 311.363 kasus ISPA dengan 70 ribu kasus di antaranya adalah anak di bawah usia 5 tahun.

Dampak Kesehatan Jangka Panjang
Paparan asap yang konstan bukan hanya menimbulkan gangguan pernapasan dalam jangka pendek, tapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dr. Syamsul Arifin menjelaskan, kabut asap membawa dampak yang serius dan masif karena mengandung PM2.5 yang dapat masuk hingga ke alveolus atau kantung udara paru-paru. Ketika terhirup berulang kali, partikel halus itu memicu peradangan dan stres oksidatif pada saluran pernapasan.
“Efek klinis meliputi batuk menetap, produksi dahak berlebih, sesak napas, hingga penurunan fungsi paru-paru,” jelas Syamsul, Senin (26/10).
Dekan Fakultas Kedokteran itu menambahkan, paparan asap juga melemahkan fungsi sel imun di saluran pernapasan. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Partikel halus bahkan dapat menembus jaringan paru-paru dan masuk ke peredaran darah, meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak harus mendapat perhatian khusus. Mengingat organ pernapasan yang masih dalam tahap perkembangan sehingga paparan polutan dapat mengganggu pertumbuhan paru-paru dan fungsi kognitif dalam jangka panjang—dalam bahasa sederhana, berdampak pada kecerdasan anak-anak.
Apalagi frekuensi pernapasan balita juga lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Artinya, anak-anak menghirup udara lebih cepat dan lebih banyak dibanding orang tuanya.
“Kelompok paling rentan adalah bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit penyerta atau komorbid seperti asma, PPOK, dan penyakit jantung,” kata Syamsul.
Ketika hujan mulai turun, kebakaran padam, dan kabut asap menipis, dampak gangguan kesehatan masih mengintai. Terpapar asap beracun selama berbulan-bulan akan menyisakan risiko kesehatan dalam jangka panjang.
Maka Syamsul mendesak pemerintah mengubah pendekatan penanganan dari respons darurat menjadi mitigasi struktural dan pencegahan. Menurutnya, upaya pemerintah tidak cukup hanya dengan membagikan masker dan mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Pemerintah perlu bergeser dari respons darurat ke mitigasi struktural dan pencegahan primer, bukan hanya membagikan masker dan mengandalkan imbauan,” tegas Syamsul.
Salah satu langkah, layanan kesehatan perlu diperkuat. Pemerintah harus menjamin pengobatan gratis bagi penderita ISPA dan penyakit lainnya akibat kabut asap di seluruh puskesmas dan rumah sakit rujukan.
Selain itu, ketersediaan tabung oksigen, nebulizer, dan obat-obatan pernapasan perlu dipastikan. Serta kepastian layanan BPJS Kesehatan tanpa hambatan administratif.
Syamsul juga mendorong pemerintah membangun lebih banyak ruang publik dengan udara bersih yang dapat diakses masyarakat secara gratis, terutama di fasilitas kesehatan dan sekolah. Rumah Oksigen maupun Rumah Aman Asap berbasis puskesmas dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi kelompok rentan.
“Model Rumah Aman Asap berbasis puskesmas perlu dijadikan standar yang lebih luas karena biayanya lebih rendah, lebih berkelanjutan, dan lebih mudah menjangkau lansia serta balita.”
Terakhir, Syamsul mengusulkan skrining risiko paparan asap diintegrasikan ke dalam pelayanan posyandu. Supaya kader kesehatan dapat mengidentifikasi keluarga yang memiliki bayi, balita, ibu hamil, dan lansia yang membutuhkan pemantauan serta rujukan apabila mengalami gangguan kesehatan.
“Pemerintah juga perlu memperkuat sistem peringatan dini dengan memublikasikan data ISPU (indeks standar pencemar udara) secara terbuka dan mudah diakses masyarakat,” pungkasnya.
***Liputan ini masuk dalam serial #SemuaBerhakSehat dan didukung oleh Kurawal Foundation, sebagai bentuk penguatan demokrasi, khususnya media massa independen di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

