- Penulis: Fitria Dara Muning
- Foto: Fitria Dara untuk Banjartimes
- Penyunting: Donny Muslim
Rawa, paya, dan kawasan yang tergenang air sepanjang tahun kerap dianggap sebagai lahan yang kurang produktif. Di Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, pandangan itu terasa perlu dilihat kembali.
Di kawasan ini, lahan basah berada di antara permukiman dan lahan pertanian. Sebagian warga memanfaatkannya untuk aktivitas pertanian dan mata pencaharian. Pada saat yang sama, mereka juga berhadapan dengan genangan, musim kemarau yang lebih panjang, hingga ancaman kebakaran lahan.
Gambaran itu kami temui ketika melakukan survei lapangan pada 25 Agustus hingga 1 Oktober 2026. Saya mewawancarai sepuluh warga, terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan, dengan rata-rata usia sekitar 40 tahun.
Sebagian besar warga yang ditemui bekerja sebagai petani. Empat di antaranya memanfaatkan kawasan rawa, sementara enam lainnya tidak.
Rawa yang berubah
Bagi warga Landasan Ulin, perubahan kondisi lahan basah bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
“Sekarang, kondisi lahan basah di sekitar tempat tinggal kami ini sudah berubah dibandingkan dengan yang dulu,” ungkap Siti Aminah (56), petani dan warga Kelurahan Landasan Ulin.
Perubahan itu paling mudah dirasakan ketika musim hujan datang. Menurut keterangan warga, banjir atau genangan biasanya muncul saat hujan deras. Ketinggiannya sekitar 31–50 sentimeter.
“Kalau musim penghujan biasanya di sini banjir, kira-kira tingginya sampai sedengkul orang dewasa.”
Saat kemarau, air di kawasan lahan basah cenderung lebih dangkal. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari warga.
Enam dari 10 warga yang diwawancarai mengatakan kemarau cukup memengaruhi kegiatan mereka. Delapan orang juga merasakan musim kemarau yang semakin panjang.
Meski merasakan perubahan, sebagian warga tidak mengetahui secara pasti apakah luas lahan basah di sekitar mereka telah berubah dibandingkan sepuluh tahun lalu. Tujuh orang mengatakan tidak mengetahui hal tersebut.
Perubahan justru lebih mudah dilihat di sekitar permukiman. Lima warga menilai perubahan paling nyata terjadi di kawasan dekat tempat tinggal mereka. Tujuh orang menyebut pembangunan permukiman dan infrastruktur sebagai penyebab utama.
Penopang Ekonomi, tapi Sulit Dikelola
Lahan basah bagi warga bukan sekadar kawasan yang tergenang air. Mayoritas warga menilai keberadaannya penting bagi pertanian dan mata pencaharian keluarga.
Mereka juga melihat pertanian yang menyesuaikan dengan kondisi lahan basah masih berpeluang dikembangkan. Namun, pengelolaannya tidak selalu mudah.
Banjir dan genangan menjadi salah satu hambatan yang paling sering disebut. Selain itu, warga merasa pengetahuan mengenai lahan basah masih terbatas.
“Sebenarnya kami ada keinginan untuk bisa mengelola lahan basah untuk mata pencaharian kami. Tapi kami kekurangan ilmu dan informasi mengenai bagaimana pengelolaannya. Sejauh ini, kami belum pernah mendapatkan informasi ataupun sosialisasi mengenai lahan basah dan lainnya,” ungkap Siti Aminah.
Persoalan informasi ini muncul berulang dalam survei. Warga yang ditemui mengaku tidak mengetahui cara mendapatkan data atau informasi mengenai lahan basah dengan mudah.
Koordinasi antara warga, pemerintah, pihak swasta, dan pelaku usaha juga dinilai belum jelas. Ketika ditanya mengenai kesediaan ikut memetakan atau memulihkan lahan basah, seluruh warga masih menyatakan ragu-ragu.
Peralatan dan teknologi menjadi dukungan yang paling mereka butuhkan.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Sharial Shaddiq dkk. berjudul “Sosialisasi Ekonomi Sirkular Berbasis Lahan Basah di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan” pada 2025. Penelitian tersebut mencatat rendahnya pemahaman dan keterbatasan literasi masyarakat sebagai salah satu persoalan dalam pengelolaan sumber daya lahan basah.
Ketika Kebakaran Menjadi Ancaman
Selain perubahan kondisi air, kebakaran lahan menjadi perhatian lain bagi warga.
Delapan dari sepuluh warga menyebut kebakaran sebagai ancaman yang paling mendesak untuk ditangani. Warga juga menilai peralatan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan masih minim dan terbatas.
Enam warga merasa cukup siap menghadapi bencana. Seluruh warga mengatakan sistem peringatan dini sudah tersedia, meski masih terbatas.
Dipertahankan dan Dikelola Bersama
Ada satu hal yang hampir seluruh warga sepakati: lahan basah perlu dipertahankan. Menurut mereka, kawasan ini berfungsi mengendalikan air dan banjir sekaligus masih memiliki manfaat bagi pertanian. Karena itu, warga juga ingin dilibatkan dalam pengelolaannya.
Sebagian warga menyatakan bersedia terlibat dalam kajian dan perencanaan. Keterlibatan itu juga diharapkan tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi berlanjut hingga evaluasi program. Namun, survei ini hanya melibatkan 10 warga dan belum dapat mewakili seluruh masyarakat Landasan Ulin.
Dari percakapan dengan warga, setidaknya terlihat bahwa rawa di tepian Banjarbaru tidak sesederhana anggapan sebagai lahan yang “tak produktif”. Ada warga yang menggunakannya untuk pertanian. Ada pula yang melihat potensinya, tetapi terbentur pengetahuan, informasi, peralatan, dan koordinasi.***
***Fitria Dara Muning merupakan mahasiswa Program Studi Geografi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Saat ini, ia aktif dan fokus menjalani perkuliahan.

