- Penulis: Aldi Ihtihsan
- Foto: Art Freedom Catharsis
- Penyunting: Donny Muslim
Puluhan anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Martapura mengikuti kegiatan seni dan refleksi diri untuk mengenali emosi serta mempelajari cara menghadapi tekanan psikologis. Kegiatan bertajuk Art Freedom Catharsis itu digelar pada Sabtu (17/10/2026) oleh Kelompok III Pemuda Bakti Banua bersama sejumlah komunitas di Kalimantan Selatan.
Para peserta diajak menuangkan perasaan, harapan, dan kekhawatiran ke atas kertas gambar. Sesi ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mencakup permainan kelompok, refleksi diri, psikoedukasi, dan penyusunan rencana menghadapi situasi yang memicu tekanan emosional.
Sebelum mulai menggambar, peserta mengikuti permainan “Pulau Terpencil” dan aktivitas “Tekuk Jari, Kenali Diri”. Keduanya menjadi pengantar untuk mengenali nilai-nilai yang dianggap penting dan merefleksikan diri.
Pada sesi utama, peserta menggambar dengan iringan musik instrumental. Setelahnya, mereka mengikuti refleksi kelompok untuk membicarakan pengalaman selama kegiatan.
Ketua pelaksana, M. Maulidinur Rahman, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari perhatian terhadap kondisi psikologis anak binaan. Mereka dapat menghadapi tekanan emosional, perasaan terisolasi, hingga kekhawatiran terhadap stigma masyarakat ketika kembali ke lingkungan sosial.
Menurut Maulidinur, seni digunakan sebagai salah satu media untuk membantu peserta mengungkapkan perasaan yang mungkin sulit disampaikan secara verbal. Kegiatan itu juga dirancang untuk memperkenalkan strategi menghadapi kecemasan dan tekanan psikologis.
Setelah sesi menggambar, peserta mengikuti psikoedukasi dan penyusunan rencana koping (coping plan) bersama tim Konselor Sebaya Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (FKIK ULM) LokaJiwa serta pendamping psikolog.
Mereka diperkenalkan pada sejumlah cara merespons emosi yang tidak nyaman, antara lain mengatur pernapasan, berolahraga, berdoa, dan menyalurkan perasaan melalui karya seni. Strategi tersebut dapat menjadi pilihan dalam menghadapi situasi sehari-hari selama menjalani pembinaan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penulisan surat untuk diri sendiri di masa depan. Peserta menuliskan harapan masing-masing pada kertas tempel (sticky note), kemudian menempelkannya pada media yang disebut “Pohon Harapan”.
Kegiatan ini melibatkan Komunitas Sekolah Rakyat Merdeka Kalimantan Selatan, Komunitas Konselor Sebaya FKIK ULM LokaJiwa, relawan, dan pendamping psikolog. Pelaksana Harian Kepala LPKA Kelas I Martapura, Muhammad Kuderi, turut membuka kegiatan tersebut.
Program ini merupakan bagian dari GerakDampak Academy 2026, kolaborasi Pemuda Bakti Banua, dan sejumlah lembaga lainnya. Fasilitator kegiatan, Putri Amalina Handayani, mengatakan program tersebut mengangkat tema kesetaraan dan kesehatan mental bagi kelompok rentan. Di akhir kegiatan, peserta menempelkan catatan berisi harapan untuk diri mereka sendiri pada “Pohon Harapan”.***

