Tak Ada Skatepark, Siring pun Jadi: Siasat Anak Muda Banjarmasin Menghadapi Krisis Ruang Bermain

  • Penulis: Riyad Dafhi R.
  • Foto: Riyad & Rahmad Ade
  • Penyunting: Muhammad Syarafuddin

Taman siring menjadi skatepark. Bekas pelabuhan menjadi arena layang-layang. Untuk bermain dan berkumpul, warga Banjarmasin harus berebut ruang sempit yang tersisa.

MEMAMERKAN gerakan drop in, Aditia Rahman meluncur cepat di atas skateboard dari bibir quarter pipe. Tail mengentak di ujung funbox, papan melesat ke udara, berputar dalam kickflip, sebelum kembali lekat pada kedua telapak kaki. Ada sedikit goncangan, tapi ia mendarat mulus.

Di linelain, Muhammad Rifansya membidik flat rail. Beberapa kali push, dan sekali ollie, papan melintang di atas besi dalam boardslide. Ia menjaga keseimbangan, meluncur, landing dengan bersih.

Keduanya adalah skater berprestasi asal Banjarmasin. Teranyar, Rifansya menyabet medali emas, sementara Aditia membawa pulang perunggu pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) di Nusa Tenggara Barat 2025. Kemudian pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025, Aditia mengoleksi satu medali emas dan satu perak, sedangkan Rifansya meraih satu emas dan satu perunggu.

Penulis menemui mereka saat session di Siring Nol Kilometer, Banjarmasin Tengah, yang sekitar 200 meternya disulap menjadi skatepark dengan obstacle seadanya, Selasa (14/7) sore.

Tidak hanya mereka berdua, ada skater lain, termasuk anak-anak yang tergabung dalam Rivertown—komunitas skateboard Banjarmasin. Sebagian mencoba heelflip, ada pula yang berulang kali mengincar 50-50 grind. Tak semuanya mulus. Sesekali papan terpental (board shoot), roda kehilangan cengkeraman, atau kaki terlepas ketika trik kurang sempurna. Namun tak ada yang benar-benar berhenti. Papan kembali diambil, mereka tertawa, lalu mengulang hingga berhasil.

“Sudah sejak tahun 2013 kami berlatih dan bermain skateboard di sini. Bisa dikatakan setiap hari,” kata Ketua Rivertown, Muhammad Firdaus. “Biasanya (skater) akan semakin banyak sehabis magrib.”

Lintasan itu memang jauh dari ideal. Permukaan siring tak pernah dirancang sebagai arena skateboard. Sementara semua obstacle dibangun dari dana hasil patungan komunitas.

“Alhamdulillah sekarang sudah punya obstacle-obstacle standar yang biasa dipakai kompetisi. Tapi ini standar lokal, kalau nasional jelas belum memenuhi,” ujarnya.

Di sisi lain, mereka juga harus berbagi ruang dengan pejalan kaki dan pelari yang jogging di siring. Benturan kecil sesekali tak terhindarkan, terutama ketika papan terlepas saat mencoba trik.

“Sering sih kena orang, tapi ya kita langsung minta maaf,” akunya sambil tersenyum. “Namanya main skate, kadang tanpa sengaja papannya terlempar. Syukurnya enggak pernah fatal,” tambahnya.

Meski serba terbatas, hanya kawasan di tepian Sungai Martapura itu satu-satunya tempat yang memungkinkan dipakai untuk berkumpul dan berlatih secara rutin.

Besar harapan mereka, Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin mewujudkan skatepark permanen yang layak.

Harapan—atau wacana—itu sudah beberapa kali mencuat, tetapi hingga kini para skater masih mengandalkan Siring Nol Kilometer sebagai arena latihan.

“Tahun ini memang dijanjikan lagi oleh Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin. Semoga bisa terealisasi,” harapnya.

Jika boleh, mereka ingin Banjarmasin memiliki skatepark berstandar nasional, seperti Motion Skatepark di Bali. Bukan cuma tempat untuk bermain, tetapi juga arena untuk berkumpul, berlatih lebih maksimal, bertukar trik, menumbuhkan generasi baru skater, dan menjaga denyut kultur skateboard Banjarmasin yang telah tumbuh sejak dua dasawarsa lalu.

Lapangan Bermain Digusur Perumahan  

Ratusan warga menghambur di bawah Jembatan RK Ilir, Banjarmasin Selatan, pada Ahad (12/7) sore. Keramaian terlihat pada dua titik yang saling berseberangan: kawasan eks Pelabuhan Martapura Lama (Marla), Jalan RE Martadinata dan Siring Pekauman.

Meski didominasi bocah, tak sedikit pula remaja dan orang tua. Sebagian besar datang untuk bermain layang-layang, sementara yang lain duduk santai menikmati suasana Sungai Martapura.

Langit dipenuhi ratusan layang-layang warna warni. Berkibar saling beradu tinggi, menari liar mengikuti sapuan angin.

Sudah sebulan terakhir kawasan ini menjadi arena bermain layangan dadakan. Momen libur sekolah turut menjadi sebab. Terlebih, lokasinya memang pas. Ruang terbuka, angin kencang, dan tak terhalang kabel.

Namun, keseruan itu bukan tanpa risiko. Sebelum pindah ke bawah jembatan, banyak pemain menerbangkan layang-layang dari atas jembatan. Membahayakan pengguna jalan.

Benang layangan yang melintang, terlebih jika menggunakan benang tajam (gelasan), bisa menciderai pengendara. Anak-anak yang terlalu asyik mengejar layang-layang putus juga kerap menyeberang tanpa memperhatikan lalu lintas. Sepanjang Juli 2026, sedikitnya empat orang telah menjadi korban.

Mundur ke tahun 2025, kawasan Jembatan Patih Masih di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, juga sempat menjadi titik berkumpul ratusan pemain layang-layang. Namun, seperti di RK Ilir, keramaian layang-layang di Patih Masih juga memicu kecelakaan.

Contoh MAP, bocah 7 tahun yang mengalami luka serius setelah lehernya tersabet benang gelasan ketika dibonceng orang tuanya naik sepeda motor. Anak itu harus menjalani operasi di RSUD Mochammad Ansari Saleh. Mencegah bertambahnya korban, petugas Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) diturunkan untuk berjaga.

Kendati demikian, keseruan bermain layang-layang tetap menarik perhatian banyak orang—salah satunya Ahmad Surya (26), warga Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.

Bersama beberapa kawan, ia datang kemari saban akhir pekan untuk bermain layang-layang. Kawasan ini menjadi pilihan Surya karena lapangan bermain yang layak di sekitar tempat tinggalnya sudah nyaris habis.

“Di tempat saya sudah tidak bisa lagi (bermain layang-layang). Banyak kabel telepon. Tidak bisa behimat (leluasa) melumbar (mengulur) benang,” kata pemuda 26 tahun tersebut.

Sementara lahan-lahan terbuka yang dahulu luas lambat laun menghilang, berubah menjadi permukiman. “Dahulu pehumaan (sawah) masih banyak, sekarang sudah jadi perumahan,” katanya.

Surya meyakini, alasan itu pula yang membuat banyak orang berdatangan ke Jembatan RK Ilir sebagai alternatif ketika ruang bermain di Banjarmasin semakin minim, terhimpit derasnya pembangunan.

“Kita kekurangan fasilitas tempat bermain yang memadai. Harapannya, pemerintah bisa menyediakan lapangan khusus,” tuturnya.

Cerita serupa diutarakan Ifan Setiawan (30) dan M. Ramadhan (27). Dua sekawan ini berasal dari kampung berbeda. Ifan tinggal di Pekauman, Banjarmasin Selatan, sedangkan Ramadhan berasal dari Basirih, Banjarmasin Barat.

Namun, hampir setiap petang keduanya bertemu, dan hari itu mereka datang bersama sekitar delapan teman lainnya untuk menerbangkan layang-layang.

Sejak kawasan itu mulai ramai sekitar sebulan terakhir, mereka berdua nyaris tak pernah absen datang ke lokasi tersebut. “Setiap hari pukul 16.30 Wita sudah di sini,” ujar Ramadhan.

Bagi mereka, keramaian ini bukan semata karena sedang musim layang-layang atau masa libur sekolah. Melainkan akibat semakin terbatasnya ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan warga kota untuk berkumpul dan bermain.

Warga setempat, Firmansyah (35), tak ingin ketinggalan menonton keseruan bermain layang-layang di Jembatan RK Ilir. Namun, ia kerap khawatir. Apalagi saat anak-anak yang terlalu asyik berebut layang-layang terkadang memicu keributan. Tak jarang ada yang melempar batu yang diikat dengan benang untuk menjangkau layang-layang yang tersangkut. Belum lagi benang layangan yang menjuntai atau melintang ke badan jalan.

“Mau menegur juga susah. Kalau di sini dilarang, mereka mau bermain di mana lagi?”

Sehingga Firman memilih berjaga dengan kesadarannya sendiri. Sesekali membantu membereskan benang layangan yang menjuntai di jalan raya agar tidak membahayakan pengendara.

“Kadang saya bantu potong. Khawatir kena orang,” tutupnya.

Krisis Ruang

Kota Banjarmasin yang hanya memiliki luas 98,46 kilometer persegi sedang menghadapi krisis ruang publik.

Mengacu data Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, ruang publik yang tersedia di antaranya berada di kawasan Menara Pandang, Siring Patung Bekantan, Siring Nol Kilometer Nol, Makam Sultan Suriansyah, Siring RE Martadinata, dan Siring Jafri Zamzam.

Sementara itu, fasilitas olahraganya juga tidak banyak. Lapangan sepak bola hanya tersedia di kawasan HKSN, Banjarmasin Utara; Lapangan Gerilya di Banjarmasin Selatan, serta lapangan di Kompleks Rahayu, Banjarmasin Timur—saat ini masih dalam tahap pembangunan. Adapun lapangan basket hanya terdapat di kawasan RK Ilir dan Patung Bekantan.

Merujuk data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, di kota ini terdapat 109 ruang terbuka hijau (RTH). Namun, sebagian besar merupakan taman berukuran kecil, atau berupa median dan bundaran jalan. Taman yang benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas tidak banyak. Salah satunya Taman Kamboja di Jalan Anang Adenansi, itupun kondisinya belum sepenuhnya representatif sebagai ruang publik.

Bahkan, jika luas seluruh RTH publik digabungkan dengan RTH privat, totalnya baru mencapai sekitar 3 persen lebih sedikit dari luas wilayah kota. Masih jauh dari amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan setiap kota memiliki sedikitnya 30 persen ruang terbuka hijau.

Sekretaris DLH Banjarmasin, Wahyu Hardi Cahyono menyebut keterbatasan lahan menjadi kendala utama pemkot dalam menambah RTH. “Kota kita memang kecil, tapi penduduknya besar, dan sekitar 70 persen wilayah sudah ada pemiliknya. Jadi untuk menambah RTH memang agak berat,” ujarnya, Selasa (14/7).

Saat ini, DLH merencanakan pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati di kawasan Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Lahan seluas 4,8 hektare telah tersedia, namun proyek itu belum dimulai karena sebagian area terdampak rencana pembangunan jalan nasional.

Rencana dan Wacana

Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Ibnu Sabil mengakui ruang-ruang publik di kota ini belum ideal untuk mewadahi kebutuhan “healing” masyarakat.
Maka, selain membangun yang baru, pemkot berencana menata ulang yang sudah ada. 

Rencana terdekat, merevitalisasi Taman Kamboja untuk dijadikan alun-alun yang dapat mewadahi kegiatan bermain, literasi, hingga olahraga.

Pemkot juga pengin menata aktivitas masyarakat bermain layang-layang demi keselamatan bersama. “Layang-layang ini kan tidak terus-menerus, hanya musiman,” katanya, Senin (13/7).

Lalu, mengembangkan kawasan RK Ilir sebagai ruang berkumpul masyarakat yang dilengkapi fasilitas olahraga. 

Rencana lain, di Banjarmasin Timur, membangun gelanggang olahraga (GOR) beserta fasilitas pendukung di Kompleks Rahayu.

“Termasuk skatepark, dan juga fasilitas panjat tebing, inshaallah tahun ini kita bangun yang lebih layak di GOR Banjarmasin Timur,” ujarnya, Senin (13/7). 

Kemudian, menyiapkan pembangunan lapangan sepak bola di kawasan Gerilya. Sedangkan di Banjarmasin Barat sedang tahap proses penyiapan lahan. “Pembangunan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran daerah,” katanya. 

Adapun skema pemanfaatan akan mengikuti ketentuan peraturan daerah. Beberapa fasilitas olahraga, seperti lapangan basket di Patung Bekantan dan RK Ilir telah dikenai retribusi. Sementara untuk lapangan sepak bola, penerapan retribusi masih dipertimbangkan

Homo Ludens

Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah menilai, fenomena bermain layang-layang atau berlatih skateboard di tempat yang tidak semestinya bisa dimaknai sebagai gerakan critical mass, yang dimunculkan pertama kali oleh pesepeda di San Francisco, Amerika Serikat, pada 25 September 1992.

Ini cara masyarakat untuk menunjukkan kebutuhan akan ruang publik yang aman dan layak. “Ini adalah perebutan ruang. Ruang untuk berkumpul secara komunal,” katanya, Selasa (14/7).

Menurutnya, Banjarmasin sedang menghadapi persoalan berkurangnya ruang ketiga (third place), yakni ruang publik di luar rumah sebagai ruang pertama (first place) dan institusi formal seperti sekolah atau tempat kerja sebagai ruang kedua (second place).

“Problem Banjarmasin sekarang adalah kehilangan ruang ketiga, yang seharusnya menjadi tempat masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan bermain,” katanya.

Memang ada banyak taman, tapi sebagian besar belum dirancang sebagai arena bermain, dan bahkan juga berbayar. Akibatnya, tidak semua orang dapat mengakses.

“Ibarat air, manusia akan selalu merembes dan mencari celah. Ketika ruang bermain semakin sempit, mereka akan memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia, meskipun sejak awal bukan dirancang untuk aktivitas itu,” katanya.

Dalam kacamata antropologi, katanya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang dikenal sebagai homo ludens, yakni makhluk yang secara alamiah memiliki dorongan untuk bermain-main.

“Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun tetap bermain dalam berbagai bentuk. Bermain itu bagian dari sifat dasar manusia,” katanya.

Dalam permainan, ada istilah play and display, yakni keinginan untuk memperlihatkan kemampuan sekaligus menyaksikan orang lain melakukan hal yang sama, dan aktivitas tersebut membutuhkan ruang yang luas serta dapat diakses bersama.

“Orang ingin bermain untuk dilihat orang lain, dan pada saat yang sama juga ingin melihat orang lain bermain. Itu membutuhkan ruang atau space. Sederhananya, sebuah lapangan,” tegas.

Maka, fenomena bermain layang-layang atau skateboard yang memanfaatkan ruang di luar peruntukan tidak semestinya dicap sebagai pelanggaran fungsi ruang. Sebaliknya, perlu dibaca sebagai sinyal bahwa masyarakat membutuhkan ruang publik yang lebih memadai.

Berangkat dari kondisi itu, ia menilai Banjarmasin masih membutuhkan ruang publik yang lebih luas dan mudah diakses. Berbeda dengan banyak kota yang memiliki alun-alun sebagai ruang komunal, Banjarmasin dinilai belum memiliki ruang serupa dalam skala yang memadai.

“PR Banjarmasin adalah bagaimana menyediakan ruang seperti itu. Bisa memanfaatkan lahan milik pemerintah atau menyewa lahan tak terpakai,” katanya.

Penyediaan ruang publik bukan semata untuk mengakomodasi permainan tradisional atau komunitas tertentu. Ia juga memiliki fungsi sosial untuk memperkuat interaksi, merekatkan hubungan antarkelompok, mengurangi tekanan psikologis warga kota, sekaligus mencegah segregasi sosial akibat terbatasnya akses terhadap ruang bermain.

“Permainan-permainan seperti ini justru bisa merekatkan hubungan sosial masyarakat. Karena itu, ruang untuk bermain perlu dipikirkan dan disiapkan, bukan hanya menjelang momentum politik, tetapi sebagai kebutuhan warga kota,” tegas Nasrullah.

Tanggung Jawab Pemkot

Pakar tata kota, Nanda Febrian Pratamajaya menegaskan, penyediaan ruang publik merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun, saat lahan dan anggaran terbatas, solusi paling realistis ialah mengoptimalkan ruang-ruang yang sudah ada.

“Sebetulnya Banjarmasin punya potensi ruang publik, seperti kawasan sempadan sungai seperti siring. Tinggal bagaimana ruang-ruang itu dioptimalkan agar aman dan nyaman digunakan masyarakat,” kata Nanda, Selasa (14/7).

Bendahara Umum (Bendum) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) INTAKINDO (Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia) itu menambahkan, luas ruang publik di Banjarmasin saat ini memang belum ideal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dan luas wilayah.

“Namun, mahalnya harga lahan, terutama di pusat kota, membuat penambahan ruang terbuka dalam skala besar bukan perkara mudah,” ucapnya.

Maka, ia menyarankan pemkot memaksimalkan ruang publik yang sudah ada. Selain merevitalisasi taman, kawasan sempadan sungai juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang berkumpul.

Ia mencontohkan kawasan siring di RE Martadinata seberang Balai Kota dan kawasan Mitra Plaza di Jalan Pangeran Antasari yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia membayangkan kawasan tersebut dilengkapi akses penyeberangan.

Nanda juga menyebut lahan kosong di kawasan bekas Pelabuhan Marla dapat dimanfaatkan secara berjangka melalui skema kerja sama dengan pemilik lahan, dalam hal ini PT Pelindo (Persero).

“Misalnya dibuat kerja sama pinjam pakai. Pemkot membersihkan lahan lalu menyediakan fasilitas sehingga anak-anak punya ruang bermain, sambil menunggu lahan itu dimanfaatkan pemiliknya,” katanya.

Secara umum, ia menilai kualitas ruang publik di Banjarmasin masih memerlukan banyak pembenahan. “Tidak harus dibangun dengan konsep yang mewah. Yang terpenting bersih, aman, nyaman, dan mudah diakses warga,” nilainya.

Ia mengingatkan, berdasarkan standar perencanaan perkotaan, kebutuhan ruang terbuka publik mencapai sekitar 0,2 meter persegi per jiwa. Idealnya, setiap kecamatan memiliki sedikitnya satu ruang publik yang representatif. Bila keterbatasan lahan menjadi kendala, optimalkan fasilitas umum di kawasan perumahan agar sebarannya lebih merata.

“Fasum di perumahan sebenarnya sudah banyak. Tinggal bagaimana pemerintah mengoptimalkannya menjadi taman lingkungan, ruang bermain, atau ruang belajar bagi masyarakat,” ujarnya.

Keberadaan ruang publik penting untuk menyehatkan mental masyarakat Banjarmasin. Sehingga optimalisasi ruang yang ada menjadi mendesak di tengah keterbatasan lahan dan anggaran.***

***Liputan ini masuk dalam serial #MerebutRuang dan didukung oleh Kurawal Foundation, sebagai bentuk penguatan demokrasi, khususnya media massa independen di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.