Tahun yang Berat untuk Kawula Ojol: Sekelumit Kisah Para Driver di Banjarmasin

  • Penulis: Donny Muslim
  • Foto: Riyad Dafhi R/Banjartimes
  • Penyunting: Muhammad Syarafuddin

Orang bijak mengatakan roda kehidupan pasti berputar. Tapi bagi para pengemudi ojek online, roda itu seolah rusak dan terus berada di bawah.

***

EMLYA Dhea Francyska (34) duduk di sebuah warung gorengan di Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, pada suatu petang pertengahan Juni 2026. Di hadapannya tersisa segelas kopi susu dan remah tahu bakso yang habis sejak sejam lalu. Sesekali ia menatap layar gawai yang retak, berharap muncul notifikasi pesanan.

“Hari ini, dari pagi sampai sore, cuma dapat lima orderan,” keluh perempuan yang akrab disapa Rere itu kepada Banjartimes.

Sejak 2016, Rere menggantungkan penghasilan dari jalanan kota. Hampir semua platform pernah ia coba, dari Gojek, Grab, hingga Maxim. Selama hampir sepuluh tahun bekerja sebagai ojol, ia telah melewati banyak hal. Namun, menurutnya, situasi satu dua tahun terakhir jauh berbeda dibanding masa sulit sebelumnya.

Di kalangan ojol, kondisi itu dikenal dengan istilah anyep—saat order semakin jarang dan waktu menunggu semakin panjang. Anyep menggambarkan keadaan ketika aplikasi lebih sering sunyi daripada berbunyi.

Emlya Dhea Francyska atau Rere ketika mengecek pendapatannya selama kurang lebih tiga-empat hari di plaftorm ojek online. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)

Padahal, beberapa tahun lalu, narik dari pukul 08.00 hingga 18.00 sudah cukup baginya untuk membawa pulang Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Itu tanpa perjalanan jarak jauh (long trip). Jika sedang beruntung, mendapat perjalanan ke luar kota atau antarkabupaten, penghasilannya bisa lebih besar.

Kini, target yang sama semakin sulit dicapai. Ibu dua anak ini tak punya banyak pilihan selain memperpanjang jam kerja. Bersama suaminya, mereka bergantian menggunakan satu-satunya sepeda motor yang dimiliki untuk mencari order hingga larut malam. Ketika Rere selesai bekerja, suaminya melanjutkan mencari penumpang. Tak jarang, motor itu baru diparkir menjelang subuh.

“Sering motor itu berhentinya pas subuh saja, pas mau ngantar anak sekolah,” ujarnya.

Dalam sehari, ia sedikitnya menghabiskan sekitar Rp40 ribu untuk membeli bensin. Di luar itu, ia dan suaminya harus menyiapkan sekitar Rp50 ribu untuk kebutuhan dapur, ditambah Rp50 ribu lagi untuk ongkos sekolah kedua anak mereka. Artinya, mereka harus mengantongi lebih dari Rp150 ribu setiap hari agar kebutuhan paling mendasar tetap terpenuhi.

“Itu belum terhitung makan di jalan,” katanya.

Belakangan, beban pengeluaran semakin terasa setelah harga BBM dan biaya perawatan kendaraan ikut naik. Rere memilih tetap menggunakan Pertamax karena motornya tidak cocok “meminum” Pertalite.

“Pernah pakai Pertalite, mesinnya jadi brebet,” katanya.

Bukan hanya harga BBM. Harga oli, ban, dan suku cadang juga mengalami kenaikan. Padahal, motor yang digeber hampir tanpa henti dari pagi sampai malam itu harus diservis dua hingga tiga kali dalam sebulan agar tidak cepat rusak. Bagi pengemudi ojek online, kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan aset utama sekaligus sumber penghidupan. Jika motor rusak, penghasilan pun ikut berhenti.

Di tengah biaya operasional yang terus meningkat, order justru semakin sulit didapat. Rere menduga lesunya permintaan dipengaruhi menurunnya daya beli masyarakat. Diceritakannya, setiap tahun setelah Lebaran hingga masa libur sekolah memang cenderung sepi. Namun, penurunan tahun ini terasa jauh lebih dalam dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sejak habis Lebaran mulai turun. Orang lagi banyak pengeluaran buat tahun ajaran baru. Apa-apa juga mahal, jadi orang lebih hemat belanja,” ujarnya.

Situasi serba sulit itu membuat Rere harus berpikir lebih keras untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Berkeliling mencari titik-titik yang ramai pelanggan pun kini menjadi dilema karena harus mengirit bensin. Padahal, berpindah lokasi adalah trik untuk memperoleh order lebih banyak.

“Bensin larang (mahal) banar. Mau mutar (keliling) cari orderan juga jadi mikir,” katanya.

Emlya Dhea Francyska atau Rere ketika berfoto di kawasan Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur, di pertengahan Juni 2026. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)

Tahun yang Berat

Selain menghadapi order yang semakin anyep, para pengemudi ojek online juga hidup dalam ketidakpastian sebagai pekerja sektor informal. Mereka berstatus sebagai mitra perusahaan aplikasi, bukan pekerja yang memperoleh jaminan ketenagakerjaan sebagaimana karyawan pada umumnya. Karena itu, perlindungan seperti BPJS Kesehatan maupun jaminan sosial lainnya harus diurus secara mandiri atau melalui subsidi pemerintah daerah.

Rere bersyukur masih terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan yang iurannya ditanggung Pemerintah Kota Banjarmasin. Perlindungan itu sangat berarti baginya setelah mengalami pendarahan di kepala pada tahun lalu.

“Di atas selaput otak. Kalau di bawah selaput, mungkin sudah koma,” katanya mengenang.

Saat itu, Rere mengeluhkan sakit kepala yang parah. Rasanya seperti dicabik-cabik. Ia lalu menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit. Dokter menemukan tujuh titik pendarahan. Meski penyebabnya tidak dapat dipastikan, dokter menduga kondisi itu berkaitan dengan kelelahan akibat ritme kerja yang padat.

Saat itu, Rere hampir saban hari begadang di jalan raya. Waktu istirahat semakin sedikit karena ia berpacu dengan target harian. Ia ingat sekali waktu pernah meraup Rp 2,9 juta lebih dalam waktu kurang dari sepekan.

“Kata dokter kemungkinan kecapekan. Memang waktu itu sering begadang,” ujarnya.

Risiko kesehatan seperti itu pada akhirnya harus ditanggung sendiri oleh para mitra aplikasi. Ketika sakit, mereka otomatis kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja. Selain persoalan kesehatan, ia juga menghadapi tantangan lain sebagai pengemudi perempuan. Pesanan pada malam hari kerap membuat hatinya waswas. Namun, setelah hampir sepuluh tahun ngojek, ia mulai terbiasa.

Sementara itu, ketidakpastian juga dirasakan Hasirun Ilmi, akrab disapa Shirun, yang pernah kehilangan motornya. Warga Sungai Andai itu baru menjadi ojol pada awal 2025 setelah dua kali kehilangan pekerjaan.

Sebelumnya, Shirun seorang sopir jasa ekspedisi dengan rute Banjarmasin–Palangka Raya hingga Samarinda. Namun, ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sempat bekerja sebagai sopir angkutan pecah belah, tetapi pekerjaan itu juga tidak bertahan lama.

Hasirun Ilmi alias Shirun saat berfoto di kawasan Jalan Sultan Adam, Kota Banjarmasin. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)

Shirun lantas memutuskan menarik ojek. Pilihan itu diambil karena tidak membutuhkan persyaratan yang rumit dan bisa segera menghasilkan uang. Sebagai tulang punggung keluarga dengan dua anak yang masih berusia tiga tahun dan delapan bulan, ia tak memiliki banyak pilihan selain kembali mencari nafkah di jalan.

Rutinitasnya pun berubah. Hampir setiap hari Shirun mulai bekerja sekitar pukul 10.00 pagi dan baru pulang menjelang pukul 05.00 subuh. Waktu tidurnya hanya sekitar tiga hingga empat jam setiap hari. Sebagian besar waktunya dihabiskan di jalan, berpindah dari satu titik ke titik lain untuk mengejar pesanan.

Namun, pekerjaan yang baru beberapa bulan dijalaninya itu kembali diuji. Pada akhir Oktober 2025, Shirun menjadi korban pembegalan. Sepeda motor yang selama ini menjadi alat mencari nafkah dibawa kabur pelaku. Dalam sekejap, ia kehilangan sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Tagihan-tagihan tak memberinya kesempatan untuk berlama-lama meratapi keadaan. Tanpa motor, Shirun tetap menerima pesanan makanan dengan mengayuh sepeda. Setiap hari ia menyusuri jalan-jalan Kota Banjarmasin demi mengantar pesanan kepada pelanggan. Kecepatannya tentu tak lagi sama. Tak jarang ia terlambat tiba di lokasi tujuan hingga beberapa pesanan dibatalkan. Pendapatannya pun merosot, sementara biaya kontrakan, pangan, dan susu anak tetap harus dipenuhi.

Selama beberapa bulan Shirun mengandalkan sepeda kayuh itu. Hingga solidaritas rekan-rekan sesama ojol dan dermawan menggalang donasi untuk membantu Shirun.

Meski kini sudah kembali memiliki sepeda motor, tekanan ekonomi belum juga berkurang. Shirun menyebut 2026 bukan tahun yang mudah. “Lebih berat,” katanya.

Shirun saat mengantar penumpang di kawasan Jalan Sultan Adam menuju Cemara Raya. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)

Menurutnya, kenaikan harga berbagai kebutuhan membuat masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uang sehingga pesanan yang masuk ikut berkurang. Buktinya adalah tangki bensin motornya.

“Kalau dulu dari pagi sampai subuh, bensin full tank habis. Sekarang enggak habis karena order sepi,” ujarnya.

Juga terasa dari lama menunggu pesanan. Dulu, jeda antara satu order dengan order berikutnya hanya beberapa menit. Kini, ia bisa menunggu hingga satu jam sebelum aplikasi kembali berbunyi.

Dalam sehari, jika order sedang sepi, uang yang dibawa pulang hanya sekitar Rp60 ribu. Sedangkan saat ramai, Shirun bisa memperoleh sekitar Rp150 ribu bersih setelah dikurangi biaya bensin, makan di jalan, dan pengeluaran operasional lainnya. Namun, hari-hari baik seperti itu semakin jarang ditemui.

Untuk menekan pengeluaran, Shirun terpaksa menunda servis motornya selama kendaraan itu masih bisa digunakan. Ia baru mengganti oli atau kampas rem ketika kondisinya benar-benar sudah tidak memungkinkan.

Di dalam hati kecilnya, Shirun tidak ingin selamanya bergantung pada pekerjaan ini. Di sela-sela waktu menunggu order, Shirun terus mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan, terutama untuk posisi sopir. Pekerjaan gaji bulanan menjadi harapan agar keluarganya bisa hidup lebih tenang.

Awalnya Cuma Side Job

Di pelataran sebuah minimarket di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara, sejumlah ojol berkumpul usai menunaikan salat Jumat. Sebagian asyik berbincang, sebagian lain memilih beristirahat sebelum kembali menyusuri jalanan. Di antara mereka tampak Fitri Indriani (24) yang terus melirik layar ponselnya.

Perutnya yang mulai membesar tak menghentikan Fitri untuk mengejar orderan.

Fitri baru setahun menjadi pengemudi ojek online. Sebelum itu ia sempat gonta-ganti pekerjaan. Ia bahkan pernah menjadi live host untuk sebuah toko yang menjual skincare juga wallpaper di Shopee. Saat itu ia menjadikan ojek online sebagai pekerjaan sampingan. Namun, seiring waktu, malah berubah menjadi pekerjaan utama.

“Enaknya jadi ojol itu kerja tanpa batas. Fleksibel. Mau kerja kapan saja bisa,” katanya.

Fitri Indriani saat menceritakan pengalamannya menjadi host live Shopee. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)

Perempuan yang tinggal di Sungai Andai itu mengatakan fleksibilitas menjadi alasan utama. Ia bisa mengatur sendiri jam kerja sesuai kondisi fisik dan kebutuhan keluarga. Terlebih ia tengah hamil. Jika sebelumnya ia biasa bekerja sekitar 10 jam sehari, dari pagi hingga sore, kini Fitri pulang lebih awal untuk menjaga kandungannya.

Suaminya bekerja sebagai sopir ekspedisi di kawasan Kayutangi. Penghasilan keduanya saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dari mengojol, Fitri berusaha menutupi cicilan sepeda motor yang mencapai sekitar Rp1,2 juta setiap bulan. Artinya, sedikitnya ia harus menyisihkan sekitar Rp40 ribu per hari untuk membayar angsuran kendaraan.

Jadi ketika pendapatan harian sudah mencapai Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, Fitri memilih pulang. Jika sedang beruntung, ia bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu. Namun, angka tersebut semakin sulit dicapai dalam beberapa bulan terakhir.

“Kadang ramai, kadang sepi. Bahkan ada yang enggak dapat order sama sekali,” ujarnya.

Menurut Fitri, dua bulan terakhir menjadi masa yang cukup berat bagi para ojol di Banjarmasin. Pesanan yang masuk jauh berkurang. Waktu menunggu semakin panjang. Sementara kebutuhan harian terus menuntut.

Meski demikian, Fitri tetap memilih bertahan. Dengan segala kekurangan, pekerjaan ini masih menjadi pilihan paling mungkin di tengah situasi yang serba tidak pasti. Setidaknya, ia masih memiliki keleluasaan untuk mengatur waktu bekerja sesuai kondisi tubuhnya.

“Kalau capek atau lagi ada keperluan di rumah, ya berhenti dulu, besok lanjut lagi,” katanya.

Di tengah situasi ekonomi Indonesia hari ini, jalanan Kota Banjarmasin menjadi ruang bagi Rere, Shirun, Fitri, dan ribuan pengemudi ojek online lainnya untuk mencari nafkah.

Fitri saat melintas di Jalan Sultan Adam menuju Jahri Saleh untuk menjemput penumpang. (Foto: Riyad Dafhi Rizki/Banjartimes)