- Penulis: Riyad Dafhi Rizki
- Foto: Riyad Dafhi/Banjartimes
- Penyunting: Donny Moslem
Gelombang protes terhadap pemadaman listrik bergilir mulai meluas di Kalimantan Selatan. Dalam dua hari terakhir, aksi menyuarakan keresahan atas krisis pasokan listrik digelar di Banjarbaru dan Banjarmasin. Masyarakat menuntut percepatan pemulihan pasokan listrik, perbaikan layanan, hingga kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan akibat pemadaman.
Pada Senin (27/7/2026), misalnya, dua anggota Forum Demokrasi Milenial menggelar aksi simbolik di Banjarbaru. Mereka berjalan kaki dari Bundaran Jam Adipura menuju Kantor PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalselteng sambil membawa stopkontak dan mengenakan kaus bertuliskan “Daerah Kami Masih Padam”, “Mau Numpang Charger di PLN”, serta “Mendengar Info PLN, Menyalai Lampu.”
Stopkontak yang dibawa menjadi simbol keresahan masyarakat yang terdampak pemadaman listrik bergilir dalam beberapa waktu terakhir.
Salah seorang peserta aksi, Helmie, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk protes sekaligus upaya menyuarakan keluhan masyarakat. “Kami ingin menyampaikan keresahan masyarakat yang terus terdampak pemadaman listrik bergilir,” ujarnya.
Setibanya di Kantor PLN UID Kalselteng, kedua peserta aksi diterima perwakilan PLN. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan aspirasi masyarakat serta meminta adanya perbaikan layanan agar pemadaman bergilir tidak terus berulang.
Gelombang protes kemudian berlanjut di Banjarmasin. Pada Selasa (28/7/2026), Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin mendatangi Kantor PLN UP3 Banjarmasin untuk menuntut percepatan pemulihan pasokan listrik sekaligus meminta kompensasi atas kerugian yang dialami masyarakat.
Perwakilan Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin, Ahmad Sunir Ridha, mengatakan kompensasi bagi pelanggan tidak seharusnya berhenti pada pengurangan tagihan listrik. Menurutnya, masyarakat juga berhak memperoleh ganti rugi atas kerugian materiil akibat pemadaman.
Sebagai simbolis, Sunir dan kawan-kawan pun memasang spanduk yang menyatakan bahwa Gedung PLN UP3 Banjarmasin disita. Menurutnya, PLN telah merugikan Negara dan masyarakat, buntut dari pemadaman bergilir ini.
PLN Targetkan Listrik Baru Normal Awal September
Menanggapi aspirasi dari warga, Assistant Manager Transaksi Energi Listrik PLN UP3 Banjarmasin, Akhyar Rifani, memaparkan proses pemulihan sistem kelistrikan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) yang masih berlangsung.
Saat ini, sistem kelistrikan Kalselteng masih mengalami defisit sekitar 170 megawatt (MW). Dari jumlah itu, wilayah Banjarmasin mendapat porsi pengurangan beban sekitar 30 MW melalui pemadaman bergilir.
Menurut Akhyar, satu unit pembangkit dijadwalkan kembali beroperasi pada 30 Juli. Tambahan pasokan tersebut diperkirakan mampu memangkas durasi pemadaman bergilir dari sekitar lima jam menjadi tiga jam.
Kemudian, pada 5 Agustus, satu unit pembangkit lainnya ditargetkan kembali masuk sistem. Jika berjalan sesuai rencana, pemadaman bergilir tidak lagi diperlukan, meski kondisi sistem masih berstatus siaga karena pasokan listrik belum memiliki cadangan yang cukup.
Pemulihan penuh baru diperkirakan tercapai setelah PLTU Asam-Asam kembali beroperasi pada 29 Agustus.
Dengan masuknya pembangkit tersebut, PLN menargetkan sistem kelistrikan Kalselteng sudah kembali normal pada awal September.
“Harapan kami, setelah seluruh pembangkit kembali masuk sistem, awal September kondisi kelistrikan Kalselteng sudah normal,” ujar Akhyar di Banjarmasin.
Meski optimistis pemadaman terencana bisa dihentikan mulai awal Agustus, PLN tetap mewaspadai potensi gangguan yang bersifat insidental.
Gangguan Pembangkit Sebabkan Defisit
Sementara itu, Assistant Manager Niaga dan Pemasaran PLN UP3 Banjarmasin, Hendy Syaifuddin, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi yang terjadi.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan di Kalimantan terhubung dalam satu jaringan interkoneksi yang mencakup Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.
Dengan sistem tersebut, gangguan pada satu pembangkit akan memengaruhi pasokan listrik di seluruh wilayah yang terhubung.
“Sejak dua minggu lalu seharusnya kondisi sudah normal. Namun kembali terjadi gangguan pembangkit sehingga berdampak pada sistem interkoneksi,” katanya.
Hendy mengungkapkan sejumlah pembangkit masih menjalani perbaikan, di antaranya PLTU Asam-Asam, PLTD Kuala Kurun, PLTU Tanjung Power Indonesia, serta pembangkit di wilayah Gunung Mas.
Akibatnya, kemampuan pasokan listrik belum mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Kondisi sekarang masih defisit. Artinya pemakaian masyarakat lebih besar dibanding kemampuan pembangkit yang tersedia,” jelasnya.
Untuk mengurangi dampak defisit tersebut, PLN juga berkoordinasi dengan pelanggan industri dan pelanggan besar agar sementara waktu menekan konsumsi listrik.
Bagaimana soal Ganti Rugi?
Sementara itu, menanggapi persoalan ganti rugi atau kompensasi, Akhyar kemudian mengatakan pemberian kompensasi telah memiliki mekanisme yang diatur dalam Peraturan Menteri ESDM.
Sebelum kompensasi diberikan, PLN akan memverifikasi pelanggan yang memenuhi persyaratan. “Untuk pelanggan pascabayar yang memenuhi ketentuan, kompensasi diberikan dalam bentuk pengurangan tagihan listrik sesuai regulasi,” ujarnya.
Akhyar juga mengakui masih banyak keluhan mengenai jadwal pemadaman yang tidak selalu sesuai dengan informasi yang telah diumumkan.
Ia beralasan, perubahan waktu pemadaman sekitar satu hingga dua jam masih kerap terjadi karena penyesuaian kondisi sistem kelistrikan di lapangan.
“Memang masih ada pergeseran dari jadwal yang telah diumumkan. Untuk informasi terbaru, kami terus memperbaruinya melalui WhatsApp Group dan aplikasi PLN Mobile,” katanya.***

