Film Baby Udon Tayang di Banjarmasin: Bawa Kisah Cinta, Kehilangan, dan Harapan

  • Penulis: Soraya Alhadi
  • Foto: Soraya/Banjartimes
  • Penyunting: Donny Moslem

Film drama keluarga Baby Udon diputar lebih awal di Banjarmasin, Selasa (18/8) di bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin.

Karya garapan sutradara Fajar Bustomi ini mengangkat kisah Fanny (Caitlin Halderman) perempuan yang berusaha mempertahankan harapan di tengah berbagai ujian dalam kehidupan rumah tangganya.

Dalam film, Fanny harus menghadapi kondisi suaminya, Kondoh-San atau Hajime, yang didiagnosis hanya memiliki waktu hidup sekitar enam bulan hingga satu tahun.

Di tengah kondisi tersebut, Fanny dan suaminya masih memiliki keinginan untuk mempunyai anak. Keduanya berusaha mengumpulkan uang untuk menjalani program bayi tabung.

Keinginan memiliki anak menjadi salah satu bagian dari perjalanan Fanny. Ia digambarkan sebagai perempuan yang tetap berusaha menjalani kehidupannya meski harus menghadapi kemungkinan kehilangan orang yang dicintainya.

Bagi Fanny, cerita tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ia berharap kisahnya dapat menjadi penguat bagi orang-orang yang sedang menghadapi persoalan dalam kehidupan mereka.

“Untuk pejuang garis dua, untuk pejuang kanker, apa pun ujian perasaan, ujian sabar yang sedang dilewati, aku harap kalian enggak merasa sendirian,” kata Fanny.

Ia berharap film tersebut dapat memberikan kekuatan kepada penonton yang sedang menjalani perjuangannya masing-masing.

“Melalui film ini aku harap bisa jadi kekuatan buat kalian,” ujarnya.

Caitlin Rasakan Beratnya Memerankan Fanny

Peran Fanny juga menjadi tantangan bagi Caitlin. Ia tidak hanya dituntut memahami dialog dan karakter, tetapi juga harus membawa emosi Fanny dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi sepanjang cerita.

Pengalaman tersebut membuat Caitlin merasakan kelelahan selama proses syuting. Ia bahkan mengaku sulit membayangkan jika kehidupan yang dijalani Fanny dalam film harus benar-benar dialami seseorang.

“Setiap hari syuting capek rasanya mau tidur aja. Kuat banget Ka Fanny,” kata Caitlin.

Sementara itu, Danny Soemargo awalnya tidak berencana tampil sebagai pemain. Ia ingin fokus di belakang layar sebagai produser.

Namun, kebutuhan produksi membuat Danny akhirnya memerankan karakter Papa Udon. Ia menganggap keputusan tersebut sebagai tantangan untuk membuktikan kemampuannya dalam memerankan karakter tersebut.

“Susah banget memerankan karakternya,” ujarnya.

“Mau enggak mau saya harus turun langsung main. Di awal saya enggak mau main karena ingin fokus jadi produser. Akhirnya, saya yang main. Tapi, di sinilah pembuktiannya,” katanya.

Antusiasme Penonton Banjarmasin

Banjarmasin menjadi kota kelima yang dikunjungi tim Baby Udon dalam rangkaian promosi film.

Setelah mendatangi sejumlah kota, perjalanan promosi mulai membuat pemain dan kru kelelahan. Namun, antusiasme penonton di Banjarmasin kembali membangkitkan semangat mereka.

“Jujur kita sudah agak capek. Cuma melihat semangat teman-teman di Banjarmasin, melihat studio-studio merah waktu kita datang, semangat kita ikut membara juga,” kata Danny.

Ia berharap antusiasme tersebut berlanjut ketika film resmi tayang di bioskop.

“Kita berharap di 3 September nanti sembilan layar merah semua. Baby Udon di Banjarmasin,” ujar Danny.

Respons terhadap film juga datang dari penonton yang telah menyaksikan ceritanya.

Subiantu (40), warga Banjarmasin Selatan, mengaku menangis saat mengikuti kisah Fanny dan Kondoh-San. Ia mengetahui film tersebut dari seorang teman dan kemudian datang bersama teman-temannya.

“Seru banget filmnya, menyentuh banget sampai tadi nangis-nangis. Rasanya bisa merasakan langsung kisah Fanny dan Papa Udon,” kata Subiantu.

Menurut Subiantu, adegan di rumah sakit menjadi salah satu bagian yang paling membekas. Ia melihat Fanny tetap merawat suaminya meski berada dalam kondisi sulit.

“Enggak menyerah juga, yakin kalau Allah akan menolong,” ujarnya.

Melalui kisah Fanny, Baby Udon menghadirkan cerita tentang pasangan yang tetap mempertahankan harapan ketika menghadapi keterbatasan waktu dan kemungkinan kehilangan.

Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 3 September 2026.***