Mengunjungi Religi Expo ke-11, Melihat Wajah Keberagaman dan Toleransi Kota Banjarmasin

  • Teks: Aldi Ihtihsan
  • Foto: LK3 Banjarmasin
  • Penyunting: Donny Muslim

BANJARTIMES – Ajang Religi Expo dari Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin kembali dihelat tahun 2026. Sama seperti tahun sebelumnya, kegiatan tersebut tahun ini digelar di Siring Nol Kilometer pada 25-27 September 2026.

Tidak hanya mempertemukan berbagai agama, komunitas, dan tradisi. Kegiatan yang digelar bersama Festival Mooncake 2026 itu juga menjadi ruang untuk menunjukkan solidaritas lintas iman melalui aksi kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Direktur Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Abdani Solihin, mengatakan Religi Expo sejak pertama kali digelar pada 2015 telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat di Banjarmasin.

Namun, menurut dia, keberagaman tidak cukup diwujudkan dengan hidup berdampingan. Relasi antarkelompok juga perlu berkembang menjadi kepedulian dan kerja sama ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama.

“Religi Expo bukan sekadar tentang pameran keagamaan. Religi Expo adalah ruang untuk saling mengenal, saling menghargai, saling belajar, dan berbagi nilai-nilai kebaikan dari berbagai tradisi dan keyakinan,” kata Abdani dalam pembukaan Religi Expo XI, Jumat (25/9/2026).

Tahun ini, Religi Expo mengangkat tema “Merakit: Menjaga Ragam Keyakinan dan Ikatan Tradisi.” Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) ke-3 di Banjarmasin.

Abdani mengatakan kata “merakit” dipilih untuk menggambarkan keberagaman sebagai sesuatu yang perlu dirawat bersama.

“Keberagaman tidak cukup hanya kita akui. Keberagaman perlu kita rawat dan kita rakit menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.

Solidaritas di Tengah Keberagaman

Pesan solidaritas menjadi salah satu fokus Religi Expo tahun ini.

Penyelenggara menyesuaikan format kegiatan dengan kondisi Banjarmasin dan arahan pemerintah kota yang meminta kegiatan bersifat hiburan dan kemeriahan ditiadakan. Religi Expo dan Festival Mooncake kemudian diisi aksi simpatik, refleksi, pesan solidaritas lintas iman, serta kampanye menjaga kehidupan dan lingkungan.

Bagi Abdani, penyesuaian tersebut justru memberi kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana nilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Agama tidak hanya hadir ketika kita merayakan sesuatu. Agama juga hadir ketika saudara kita sedang mengalami kesulitan, ketika lingkungan kita membutuhkan perhatian, dan ketika masyarakat membutuhkan solidaritas,” katanya.

Ia mengatakan perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk bekerja bersama dalam persoalan kemanusiaan.

“Di tengah perbedaan keyakinan, kemanusiaan tetap menjadi titik perjumpaan kita bersama,” ujar Abdani.

Religi Expo XI melibatkan sekitar 36 stan pameran agama dan komunitas, serta 108 kelompok penampil dengan 863 talent. Sebanyak 63 anak muda dari beragam suku dan agama terlibat sebagai panitia.

Menurut Abdani, keterlibatan lintas kelompok tersebut penting karena perjumpaan tidak berhenti pada pengenalan terhadap kelompok lain.

“Dari saling berjumpa itu kita harapkan nanti bisa jadi sebuah kerja sama,” katanya.

Tradisi dan Ruang Bersama

Religi Expo tahun ini berlangsung bersamaan dengan Festival Mooncake, yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Tionghoa.

Abdani mengatakan pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal tradisi yang hidup di tengah Banjarmasin sekaligus memahami nilai-nilai sosial yang menyertainya.

Festival Mooncake, kata dia, membawa pesan tentang keluarga, kebersamaan, berkumpul, dan rasa syukur. Nilai tersebut kemudian dipertemukan dengan aksi solidaritas dalam rangkaian kegiatan tahun ini.

Bagi LK3, menjaga keberagaman juga berarti menjaga ruang agar berbagai tradisi dapat hadir dan dikenali tanpa kehilangan identitasnya.

Toleransi Perlu Diikuti Program

Abdani juga mengingatkan agar upaya membangun toleransi di Banjarmasin tidak berhenti pada simbol. Sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, menginginkan agar kota ini dibangun tugu toleransi atau kebergaaman.

Hal itu disampaikan Yamin saat menghadiri ajang Religi Expo ke-11 pada Sabtu (27/9) di Siring Nol Kilometer.

“Kita turut bersyukur Banjarmasin masuk ke urutan 13 ya untuk Indeks Kota Toleran. Dan ini akan terus tingkatkan,” ujarnya. Sebagai salah satu upaya menegaskan itu, Yamin ingin ada pembangunan tugu toleransi.

Menurut Abdani, persoalan intoleransi masih dapat ditemukan dan perlu diselesaikan, termasuk persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai simbol toleransi dapat menjadi pengingat bahwa Banjarmasin merupakan kota yang beragam. Namun, simbol tersebut perlu disertai program yang nyata.

“Yang penting itu program-programnya lebih jelas. Kita tidak hanya ingin membangun tugu, tapi kalau program toleransinya tidak dijalankan, pada akhirnya itu menjadi monumen kosong,” katanya.

Karena itu, Religi Expo diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi ikut membuka ruang kerja sama antarkelompok masyarakat.

Abdani merangkum semangat kegiatan tahun ini dalam satu pesan: berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kepedulian; beragam dalam tradisi, tetapi bersama dalam kemanusiaan.***