- Penulis: Aldi Ihtihsan
- Foto: DEEPTALKS
- Penyunting: Donny Muslim
Setelah lebih dari dua tahun membangun identitas musikalnya, band modern metalcore asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, DEEPTALKS akhirnya merilis EP perdana bertajuk DEEPTALKS di seluruh platform musik digital.
EP ini pun menjadi perkenalan utuh tentang karakter, perjalanan, sekaligus arah musikal band yang mulai dikenal lewat eksplorasi lintas genre.
Self-titled EP tersebut berisi enam lagu yang disusun sebagai satu kesatuan cerita. Setiap lagu saling terhubung. Menggambarkan perjalanan emosional mulai dari keberanian memulai, menghadapi ambisi, luka, kesunyian, hingga akhirnya bangkit dan menemukan jati diri.
Band yang terbentuk pada 22 Juni 2024 ini digawangi Rofie Sanjaya (vokal), Feriza Manuwu (gitar), Rara (bass), dan Rino Mangamis (drum). Sejak awal, DEEPTALKS memilih modern metalcore sebagai fondasi utama, namun tidak membatasi diri pada pakem genre tersebut.
Vokalis sekaligus penulis lirik, Rofie Sanjaya, mengatakan seluruh materi dalam EP lahir dari percakapan-percakapan yang jujur, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.
“Some conversations stay with us forever. We turned ours into music,” ujar Rofie.
Menurutnya, nama DEEPTALKS bukan hanya identitas band, tetapi juga filosofi yang menjadi benang merah seluruh karya mereka.
“Setiap lagu lahir dari percakapan yang jujur. Dari sanalah berbagai emosi diterjemahkan menjadi musik dengan warna yang berbeda-beda namun tetap memiliki satu benang merah,” katanya.
Bukan Sekadar Album Debut
Alih-alih menggabungkan single yang telah lebih dulu dirilis, DEEPTALKS memilih membangun sebuah karya yang memiliki alur naratif.
Enam lagu tersebut terdiri atas The Start, De$ire, Trauma, Terbunuh Sepi, Break The Chains, dan Crown.
Urutannya pun tidak disusun secara acak.
The Start menjadi awal perjalanan, dilanjutkan De$ire yang menggambarkan ambisi dan obsesi. Cerita kemudian memasuki fase menghadapi luka melalui Trauma, sebelum tenggelam dalam kesunyian lewat Terbunuh Sepi.
Dua lagu terakhir, Break The Chains dan Crown, menjadi simbol perlawanan terhadap masa lalu hingga akhirnya menerima seluruh perjalanan sebagai proses bertumbuh.
Konsep tersebut membuat EP ini lebih menyerupai sebuah perjalanan emosional dibanding sekadar rilisan musik biasa.
Eksplorasi Modern Metalcore
Secara musikal, DEEPTALKS menghadirkan modern metalcore yang dipadukan dengan berbagai pengaruh lain seperti R&B, rap, electronic, pop, hingga alternative.
Eksplorasi paling mencolok hadir dalam lagu Terbunuh Sepi, yang memadukan groove bernuansa gelap dengan permainan saksofon sebelum kembali menghantam lewat distorsi khas modern metalcore.
Meski menghadirkan banyak warna baru, band ini menegaskan eksplorasi tersebut bukan untuk meninggalkan identitas mereka.
Sebaliknya, pendekatan tersebut dipilih agar setiap cerita dapat disampaikan dengan nuansa musikal yang paling tepat.
Diproduksi Secara Mandiri
Seluruh materi dalam EP diproduseri oleh gitaris Feriza Manuwu yang juga menangani proses mixing dan mastering.
Proses rekaman dilakukan di Hollowlab Studio, yang sekaligus menjadi ruang kreatif DEEPTALKS dalam mengembangkan materi musik mereka.
Sementara seluruh lirik ditulis oleh Rofie Sanjaya, dengan komposisi lagu dikerjakan bersama Feriza Manuwu.
Kolaborasi keduanya menjadi fondasi utama dalam membentuk arah musikal DEEPTALKS sejak awal berdiri.
Langkah Berikutnya
Sebelum EP ini dirilis, DEEPTALKS telah memperkenalkan tiga single, yakni De$ire, Break The Chains, dan Trauma.
Setelah itu mereka memilih menghentikan sementara aktivitas perilisan untuk fokus menyelesaikan tiga lagu baru hingga akhirnya seluruh materi dapat dirangkai menjadi sebuah karya utuh.
Ke depan, DEEPTALKS telah menyiapkan berbagai agenda untuk mendukung perilisan EP ini, mulai dari hearing session, official visualizer The Start, video musik The Start dan Terbunuh Sepi, live session, showcase, tur, hingga perilisan merchandise.
Rofie berharap enam lagu dalam EP tersebut mampu menjadi ruang bagi pendengar untuk menemukan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Kami ingin setiap orang menemukan sebagian dari dirinya di dalam enam lagu ini. Jika setelah mendengarkannya ada satu lagu yang terasa seperti sedang menceritakan hidup mereka sendiri, maka tujuan EP ini telah tercapai,” ujarnya.***

