Layar Film Banjar 2026: Upaya Membawa Sinema Lebih Dekat Lagi ke Semua Warga

  • Penulis: Harfin Shad
  • Foto: Forum Sineas Banua
  • Penyunting: Donny Moslem

Forum Sineas Banua kembali menggelar Layar Film Banjar (LFB) pada 2026. Bertepatan dengan perayaan 500 tahun Kota Banjarmasin, mereka ingin mendekatkan film kepada warga sekaligus membuka ruang bagi sineas lokal untuk bertemu dengan penontonnya.

LFB 2026 mengangkat tema Salawasnyadan berlangsung selama tiga hari tiga malam di UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan. Kegiatan ini sekaligus menandai 10 tahun Forum Sineas Banua dan edisi kelima LFB sejak pertama kali digagas pada 2018.

Direktur LFB 2026, Munir Shadikin, mengatakan tema Salawasnyaberasal dari kata lawas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti luas, lapang, dan lega.

Mereka menggunakan tema tersebut untuk mendorong ruang yang lebih luas bagi sineas dan penonton, termasuk bagi warga yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap film.

“Ini adalah representasi dari pemandangan perfilman Kalsel yang diharapkan membentang jauh ke depan, membawa karya melampaui batasan geografis maupun hambatan aksesibilitas” ucap Munir dalam rapat persiapan LFB 2026, 8 Agustus 2026.

Membawa Film Lokal Lebih Dekat

LFB tidak hanya mengandalkan pemutaran film. Penyelenggara juga menggelar lokakarya untuk meningkatkan kemampuan sineas muda sekaligus menyediakan ruang pemutaran bagi publik.

Pada siang hari, 100 sineas muda yang tergabung dalam 20 tim produksi akan mengikuti Lokakarya Pitch Deck. Mereka berasal dari berbagai wilayah Kalimantan Selatan, mulai dari Pesisir, Meratus, Pahuluan hingga kawasan Kuala seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, dan Barito Kuala.

Peserta akan mempelajari produserial, penyutradaraan, visual, programming, dan pitching.

Manajer Program LFB 2026, Rifky Muhammad, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas sineas di daerah.

Kalimantan Selatan, kata dia, belum memiliki perguruan tinggi dengan pendidikan khusus film meski sejumlah SMK telah memiliki penjurusan terkait film.

“Melalui acara LFB 2026, kita dari Forum Sineas Banua berharap kepada pemerintah dan lembaga pendidikan untuk menyadari bahwa minat terhadap film lokal ada dan benar-benar tinggi” ucap sineas kelahiran Kandangan itu dalam rapat persiapan LFB, 8 Agustus 2026.

Pada malam hari, penyelenggara membuka pemutaran film untuk masyarakat umum. Acara dimulai pukul 20.00 WITA dengan perkiraan 150-300 penonton setiap malam.

LFB akan memutar film lokal dan nasional serta menggelar diskusi. Malam pertama menghadirkan program Layar Kanas Anum yang menampilkan film-film pelajar.

Upaya tersebut juga merespons persoalan yang masih dihadapi perfilman lokal. Regenerasi sineas belum berjalan sistematis, pelaku film masih menghadapi keterbatasan alat produksi dan kemandirian ekonomi, sementara akses pendidikan film di daerah masih terbatas.

Di sisi lain, sejumlah sineas Kalsel telah membawa karya mereka ke festival nasional seperti JAFF dan Minikino. Sebagian juga telah mengakses skema pendanaan perfilman nasional.

Bioskop Bisik untuk Disabilitas

LFB juga kembali menghadirkan Bioskop Bisik pada Sabtu, 15 Agustus 2026 mulai pukul 20.00 WITA.

Program tersebut memutar film dengan audio deskripsi dan subtitle video yang menampilkan juru bahasa isyarat. Penyelenggara pertama kali membawa program ini dalam LFB 2025.

Munir mengatakan penyelenggara ingin memastikan program LFB dapat diakses berbagai kelompok masyarakat.

“Akan sangat naif jika tema “Salawasnya” tidak bisa dinikmati berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kita membawa lagi Program Bioskop Bisik, kali ini untuk ditonton bersama tanpa ada perbedaan” Ucap Munir.

Manajer Festival LFB 2026, Ridha Rezeqi Rahman, mengatakan penyelenggara menerima permintaan tinggi setelah Bioskop Bisik digelar tahun lalu. Menurut dia, ketertarikan datang dari penonton difabel maupun masyarakat umum.

“Dalam pelaksanaan ini, kita akan mengerahkan LO yang memastikan teman-teman difabel dapat mengakses acara ini dengan aman dan nyaman. Ini salah satu upaya penggerak, perluasan, eksebisi yang menjangkau beberapa lapisan masyarakat atas eksklusifitas dalam sinema. Bermuara pada program Bioskop Bisik, diharapkan sinema untuk semua dan Salawasnya” ucap penanggung jawab Bioskop Bisik Layar Film Banjar Inklusif 2025 silam.

Mempertemukan Sineas dan Warga

LFB 2026 juga menghadirkan sejumlah profesional film sebagai mentor. Mereka adalah Sofia Setyorini sebagai produser, Johansyah Jumberan sebagai sutradara, dan Bayu Bastari sebagai aktor.

Sofia merupakan lulusan Magister Institut Kesenian Jakarta dan pendiri East Cinema. Ia berfokus pada kurasi film-film Indonesia Timur, terutama Papua, serta isu minoritas dan konflik.

Johansyah Jumberan merupakan sineas asal Banua yang telah bekerja di industri film nasional. Melalui Dari Hati Films, ia menyutradarai “Saranjana”, “Kuyank”, “Iblis Dalam Kandungan”, dan sejumlah film lainnya. Ia juga mengembangkan talenta lokal dan membawa mitos daerah ke film layar lebar.

Bayu Bastari merupakan aktor, penggiat seni peran, penulis kreatif, dan pendidik asal Kalimantan Selatan. Ia bermain dalam film Jendela Seribu Sungai, Saranjana, Kuyank, dan Kaminting Pidakan.

Selain berakting, Bayu mengembangkan Ruang Aktor, sekolah akting untuk anak-anak hingga orang dewasa sekaligus production house.***