- Penulis: Harfin Shad
- Foto: Harfin/Banjartimes
- Penyunting: Donny Moslem
BANJARMASIN – Regenerasi sineas menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi perfilman Kalimantan Selatan. Di tengah keterbatasan jalur pendidikan film formal, Layar Film Banjar (LFB) 2026 membuka ruang bagi pembuat film pemula melalui program Kanas Anum.
Program tersebut menjadi bagian dari malam pembukaan LFB 2026 di Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Jumat (14/8). Sejumlah film karya pelajar dan pembuat film pemula diputar di hadapan masyarakat, termasuk film yang dibuat siswa sekolah menengah di Banjarmasin dan sekitarnya.
Kanas Anum memang disiapkan sebagai ruang bagi mereka yang baru masuk ke dunia sinema.
Direktur LFB 2026, Munir Shadikin, mengatakan program tersebut secara khusus memberikan wadah bagi pembuat film pemula.
“Program Kanas Anum ini kami hadirkan khusus untuk memberi wadah bagi para pembuat film pemula,” ujarnya.
Film-Film yang Ditampilkan
Tiga film pelajar menjadi bagian dari pemutaran Kanas Anum pada malam pembukaan LFB 2026.
“Serbuk Harapan” karya siswa SMAN 1 Gambut merupakan pemenang FLS2N tingkat SMA Kalimantan Selatan. Kemudian “Untukmu Dariku” karya siswa SMK 3 Muhammadiyah Banjarmasin yang menjadi pemenang FLS2N tingkat SMK Kalsel.
Film “Tampulu Masih Ada” dari SMKN 2 Banjarmasin juga diputar. Karya tersebut dinilai sudah menunjukkan kualitas yang cukup baik untuk ukuran film pelajar di Banua.
Selain film pelajar, ada pula “Tangui di Atas Sungai”, karya debut sutradara pemula yang diproduksi dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan.
Cerita dalam film-film tersebut banyak mengambil kehidupan yang dekat dengan pembuatnya, mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, hubungan antarmanusia hingga kebudayaan lokal.
Gawai juga cukup sering muncul dalam cerita. Hal tersebut menggambarkan keseharian generasi muda yang sejak kecil sudah terbiasa dengan teknologi digital.
Dari karya-karya tersebut, film pelajar tidak hanya menjadi tugas atau hasil belajar. Layar film menjadi cara bagi mereka untuk merekam kehidupan yang mereka kenal sendiri.
Dari Karya Pelajar ke Ekosistem Film Banua
Menurut Munir, kebutuhan terhadap ruang bagi sineas di Kalimantan Selatan masih cukup besar.
Meski demikian, karya sineas Banua mulai mendapat tempat di luar daerah. Sejumlah film lokal telah masuk ke festival seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Minikino. Ada pula sineas yang mulai memperoleh akses pendanaan melalui berbagai program film di tingkat nasional.
Perkembangan tersebut yang coba dijaga LFB dengan memberikan ruang kepada pembuat film dari berbagai tingkatan, termasuk mereka yang baru belajar membuat film.
Tahun ini, LFB mengangkat tema “Salawasnya”. Tema tersebut diambil dari kata “lawas” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti luas, lapang, dan lega.
Munir mengatakan tema tersebut menggambarkan harapan penyelenggara terhadap ruang yang lebih terbuka bagi sineas dan penonton film di Kalimantan Selatan.
“Tema ‘Salawasnya’ kami angkat sebagai manifestasi dari harapan untuk menciptakan ruang yang seluas-luasnya, selapang-lapangnya, dan selega-leganya bagi para sineas maupun penikmat film di Kalimantan Selatan,” kata Munir.
LFB 2026 juga menjadi momentum perayaan 500 tahun Kota Banjarmasin, 10 tahun perjalanan Forum Sineas Banua, serta kembalinya penyelenggaraan festival ke UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan.
Taman Budaya sendiri memiliki hubungan panjang dengan aktivitas kesenian di Banua dan selama bertahun-tahun digunakan seniman serta komunitas untuk menunjukkan karya.
Apa Kata Penonton?
Pemutaran Kanas Anum juga mempertemukan pembuat film muda dengan penonton yang sebagian berasal dari kalangan pelajar dan anak muda.
Zairullah, siswa SMKN 2 Banjarmasin, datang setelah mengetahui informasi LFB melalui media sosial. Ia mengaku tidak menyangka ada festival film lokal dengan rangkaian acara seperti itu di Banjarmasin.
“Tidak menyangka sama sekali kalau di Banjarmasin ada festival film lokal sekeren ini,” katanya.
Ia semakin tertarik setelah melihat karya teman-teman seusianya diputar di hadapan penonton.
“Pas nonton karya kawan-kawan seangkatan, ulun (saya) kagum sekali. Kualitasnya sudah mantap dan berstandar bagus,” ujarnya.
Menurutnya, film-film tersebut sudah layak ditonton masyarakat luas, terutama anak muda.
“Acara seperti ini bagus banar kalau lebih sering diadakan ke depannya,” katanya.
Hal serupa disampaikan Gina Katrunada. Ia datang ke LFB karena diajak teman dan awalnya hanya ingin melihat suasana festival.
Setelah menonton, Gina justru menemukan hal lain dari film-film yang ditampilkan. Ia melihat cerita yang dibawa para sineas muda tidak jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi tetap mampu membawa kebudayaan Banjar ke dalam film.
“Ini pertama kalinya saya datang karena diajak teman dan penasaran dengan suasana serta alur ceritanya. Ternyata seru sekali, menginspirasi, dan karya yang ditampilkan sangat berkualitas,” ujar Gina.
Baginya, unsur kebudayaan lokal menjadi bagian yang paling berkesan.
“Yang paling berkesan, film-filmnya berhasil mengangkat kebudayaan lokal Banjar yang unik dan khas,” katanya.
Gina berharap ruang untuk memperkenalkan film daerah tidak berhenti pada satu festival.
“Ruang apresiasi sinema daerah seperti ini penting sekali ada supaya masyarakat bisa lebih mengenal kebudayaan sendiri secara dekat,” ujarnya.
Setelah pemutaran film, malam pembukaan LFB 2026 dilanjutkan dengan “Bekesahan Sinema” yang menghadirkan Johansyah Jumberan dan Rina Basrindu atau Acil Imas.***

