- Teks: Donny Moslem
- Foto: Kompilasi Protes
- Panggilan terbuka atau open call pameran Radikal Re-Aksi: Menenun Kolektif, Menantang Krisis dibuka hingga 15 Maret 2026, dengan pameran digelar 4–12 April 2026 di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan.
- Kurator Eky Abdan menekankan pameran ini sebagai respons atas krisis di era Antroposen, dengan pendekatan seni yang konfrontatif dan berbasis artivisme.
- Pameran terbuka bagi seniman individu maupun kolektif lintas medium, dengan fokus pada karya yang mendorong kesadaran kolektif dan kritik ekologis melalui praktik artistik eksperimental.
BANJARTIMES— Pameran seni rupa bertajuk “RADIKAL RE-AKSI: Menenun Kolektif, Menantang Krisis” membuka panggilan terbuka (open call) bagi seniman dari berbagai latar belakang. Program yang digagas oleh akun kolektif @kompilasiprotes ini menetapkan batas akhir pengiriman karya pada 15 Maret 2026 pukul 20.00 WITA.
Pameran dijadwalkan berlangsung pada 4–12 April 2026 di Bengkel Lukis Sholihin, kawasan Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan.
Kurator pameran, Eky Abdan, menyebut kegiatan ini berangkat dari situasi krisis global yang kian kompleks, terutama dalam konteks ekologi di era Antroposen. Ia menilai pendekatan konvensional tak lagi memadai untuk merespons skala kerusakan yang terjadi.
“Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Kita hidup di dalam Antroposen—sebuah zaman di mana aktivitas manusia menjadi kekuatan dominan yang menggeser tatanan ekologis bumi,” tulis Eky dalam teks kuratorial.
Bukan untuk Meredakan Kecemasan
Eky menegaskan, pameran ini tidak ditujukan untuk meredakan kecemasan, melainkan justru memperuncingnya melalui pendekatan artistik yang konfrontatif.
“Karya-karya di dalamnya tidak dimaksudkan untuk meredakan kecemasan, melainkan memperuncingnya,” ujarnya.
Pameran ini juga mendorong praktik seni sebagai medium kritik melalui pendekatan artivisme. Selain itu, gagasan kolektivitas menjadi salah satu fondasi utama yang diangkat dalam kerangka kuratorial.
“Melalui praktik estetika relasional dan kolaboratif, pameran ini menegaskan bahwa keresahan personal hanya memiliki daya transformatif ketika dilebur ke dalam kesadaran kolektif,” tulisnya.
Apa Saja Syarat dan Ketentuannya?
Pameran terbuka bagi seniman individu maupun kolektif tanpa batasan usia, gender, pendidikan, maupun domisili. Medium karya yang dapat diajukan meliputi seni dua dimensi, tiga dimensi, instalasi, multimedia, hingga karya berbasis riset dan partisipatif. Pendaftaran bisa diakses di sini.
Seluruh karya akan melalui proses seleksi kuratorial, dan keputusan bersifat final. Seniman yang terpilih diwajibkan merealisasikan karya sesuai proposal serta mengikuti rangkaian kegiatan pameran. Penyelenggara menegaskan biaya produksi tidak ditanggung, sementara hak cipta tetap berada di tangan seniman.
Menutup teks kuratorialnya, Eky menyebut pameran ini sebagai ruang eksperimentasi gagasan yang mendorong respons kritis terhadap krisis. “Mari ber-reaksi atau punah dalam senyap,” tulisnya.***

