- Teks: Riyad Dafhi R.
- Foto: Riyad/Banjartimes.com
BANJARTIMES— Bedah buku perdana Patah Hati Tan Malaka diadakan di kota kelahiran si pengarang, Banjarmasin, akhir pekan kemarin (20/6). Di toko buku Gramedia di Jalan Veteran, roman karya Iput Syarafuddin itu dibedah oleh Sandi Firly, penulis novel May.
“Saya seolah sedang menghadapi sidang skripsi, dan pengujinya adalah Bang Sandi,” seloroh Iput, 38 tahun.
Sandi (50) mengutarakan kritik terhadap novel setebal 292 halaman terbitan Rain Publishing tersebut. Pertama, tokoh utama Tan Malaka dalam novel ini terkesan statis.
“Tan dalam novel ini tidak bergerak. Perpindahannya lebih ditunjukkan oleh si narator,” kata novelis asal Banjarbaru tersebut.
Menggunakan kalimat-kalimat dan paragraf pendek yang simpel, pace novel ini cepat. Sayangnya, di beberapa bagian, Iput terkesan terlalu buru-buru.
“Tapi saya bisa mengerti, karena latar belakang Iput adalah wartawan,” tambahnya.
Kedua, karena ini fiksi, bukan buku pelajaran sejarah, Iput semestinya lebih nekat dalam berimajinasi—berani saja belum cukup.
“Contoh di bagian akhir novel, tokoh Paramitha Jo mengutip puisi Chairil Anwar. Mengapa tidak sekalian saja Tan dan Chairil dipertemukan saat keduanya berada di Jakarta? Itu bakal keren kalau diimajinasikan,” kata Sandi.
Di luar itu, Sandi berandai-andai, novel ini bakal menarik jika diangkat ke layar lebar. “Sebab belum ada yang memfilmkan Tan,” harapnya.
Mengenai jalan diskusi, Iput mengaku agak kaget. Ia mengira audiens akan banyak bertanya perihal proses kreatif penulisan novel. Tapi, pertanyaan-pertanyaan yang datang justru terkait ideologi dan perjuangan Tan.
Misalnya, apakah komunisme punya kemungkinan untuk bangkit kembali di Indonesia? Atau, apakah novel ini diterbitkan untuk menjawab situasi politik di Indonesia hari ini?
“Acara bedah bukunya jadi kayak diskusi pergerakan aktivis. Serius banget,” kata Iput. “Untungnya tidak ada yang sampai bertanya: apa yang akan dilakukan Tan Malaka hari ini jika ia menghadapi rezim Prabowo Subianto. Ha ha ha….”
Sementara itu, Aisyah Irya selaku host, menyebut novel ini bisa menjadi pengantar bagi pembaca yang sudah lama tertarik dengan perjuangan dan pemikiran Tan Malaka, tetapi masih gentar untuk mendekati buku-bukunya yang berat, seperti Madilogatau Naar dar Republiek.
“Madilog adalah buku filsafat yang tebal dan tidak mudah dibaca. Jadi novel ini membantu saya untuk memahami pemikiran Tan,” kata Eche, sapaannya.
Sebagai penutup, setelah ini apa karya berikutnya? Iput menjawab, ia masih akan menulis di genre novel sejarah.“Saya belum bisa men-spill. Tapi kali ini tokohnya tidak seterkenal Tan Malaka. Ini kisah cinta orang-orang biasa di pinggiran sejarah Indonesia,” tutupnya.
Tentang Patah Hati Tan Malaka
Patah Hati Tan Malaka adalah novel karya Muhammad Syarafuddin (Iput) yang mencoba menghadirkan sisi personal Tan Malaka yang jarang diangkat dalam buku sejarah.
Jika selama ini Tan Malaka dikenal sebagai tokoh revolusioner, ideolog, dan pejuang kemerdekaan yang hidup dalam pelarian, novel ini menyoroti kesepian, pergulatan batin, dan kisah-kisah percintaannya yang nyaris tidak terdokumentasi secara lengkap.
Meski menggunakan tokoh dan peristiwa sejarah nyata, Iput menegaskan bahwa novel ini adalah karya fiksi. Unsur fiksi terutama digunakan untuk membangun kehidupan emosional dan relasi romantis Tan Malaka dengan sejumlah perempuan yang pernah disebut dalam berbagai catatan sejarah.
Sementara itu, pemikiran dan perjuangan politik Tan Malaka tetap merujuk pada fakta sejarah, termasuk gagasan dalam Madilog serta kiprahnya dalam Persatuan Perjuangan.
Iput ingin menghadirkan Tan Malaka sebagai manusia biasa yang juga mengalami keraguan, kehilangan, dan patah hati.
Harapannya, novel tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk mengenal lebih jauh sejarah Indonesia dan tokoh-tokoh besar yang pernah berperan dalam perjalanan bangsa.***

