Sampah Meluber di Sejumlah TPS Banjarmasin: ‘Sakit Kepala Mencium Baunya’

  • Penulis: Soraya Alhadi
  • Foto: Soraya/Banjartimes
  • Penyunting: Donny Moslem

Penumpukan sampah kembali terjadi di sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kota Banjarmasin. Tersendatnya pengangkutan membuat sampah meluber hing ga ke bahu jalan. Warga yang setiap hari beraktivitas di sekitar lokasi mengeluhkan kondisinya.

Di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin Barat, gunungan sampah yang didominasi kantong plastik hitam, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga tampak meluber dari TPS hingga memakan hampir separuh bahu jalan. Aroma busuk menyengat langsung tercium begitu melintasi kawasan tersebut.

Bagi warga sekitar, kondisi itu telah menjadi “teman” sehari-hari. Ariati (54), misalnya. Setiap malam, ia mencark rezeki dengan berjualan minuman yang berjarak sekitar lima meter dari TPS Belitung Darat.

“Sakit kepala mencium baunya. Apalagi kalau ada sampah-sampah udang dan ikan,” keluhnya.

Menurut Ariati, dirinya bersama warga sekitar sudah berulang kali mengadukan persoalan tersebut kepada dinas terkait.

Bahkan, terakhir kali ia menyampaikan keluhannya langsung kepada Wali Kota Banjarmasin melalui media sosial. Namun, menurutnya, respons yang diterima masih minim. Solusi konkret yang diharapkan tak kunjung terwujud, sementara penanganan yang dilakukan hanya bersifat reaktif.

“Intinya kami tuh maunya sampah ini dikelola. Kadang-kadang bisa masuk ke dalam gang (baunya),” pintanya.

Keluhan serupa disampaikan Fahrulrazi (45). Setiap sore hingga menjelang malam, ia bersama mertuanya berjualan nasi bungkus di depan TPS Zafri Zam-Zam, Banjarmasin Tengah. Lapak mereka berhadapan langsung dengan tumpukan sampah.

Meski mengaku kondisi itu belum berdampak langsung terhadap penjualan, rasa risih tetap ia rasakan. Bukan hanya karena sampah yang berserakan, tetapi juga karena belum terlihat adanya upaya nyata untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Harusnya dibuatkan tempat pembuangan khusus, yang luas. Bak di sini kecil, kada (tidak) muat menampung sampah yang banyak,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di dua lokasi tersebut, penumpukan sampah terjadi setelah operasional pengangkutan sempat tersendat. Tersendatnya armada diduga berkaitan dengan pembatasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bagi truk pengangkut sampah yang beroperasi.

Pengawas TPS Zafri Zam-Zam, Subekti, mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, pengangkutan sampah sempat terhenti total selama dua hari dan baru kembali beroperasi pada Senin, 14 Juli 2026.

“Normalnya ada tiga armada yang mengangkut, sekarang hanya dua,” terang Subekti.

Berkurangnya jumlah armada membuat ritase pengangkutan ikut menurun. Akibatnya, volume sampah harian tidak seluruhnya dapat terangkut sehingga terus mengendap dan meluber di berbagai titik TPS di Banjarmasin.