- Penulis: Harfin Shad
- Foto: Rahmad Ade/Banjartimes
- Penyunting: Donny Moslem
Selama satu dekade terakhir, Forum Sineas Banua (FSB) terus merawat ekosistem perfilman di Kalimantan Selatan. Berawal sebagai komunitas, tempat ini menjadi ruang yang mempertemukan pegiat film lintas generasi, mendorong lahirnya sineas-sineas baru, hingga memperkuat kapasitas sumber daya manusia perfilman daerah di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi industri film lokal.
Perjalanan selama 10 tahun itu diperingati dalam perayaan hari jadi FSB yang digelar pada Sabtu (25/7/2026) malam di markas mereka di Jalan Pramuka, Banjarmasin. Momen tersebut berlangsung hangat dan dihadiri lintas generasi ekosistem film Banua, mulai dari pegiat film, produser lokal, kru produksi, komunitas film, hingga barisan pelajar SMK jurusan broadcasting dan perfilman.
Selain menjadi ajang silaturahmi dan ramah tamah, rangkaian acara juga diisi dengan sesi diskusi yang cukup menarik. Melalui konsep ini, panggung dibuka selebar-lebarnya bagi para pelajar untuk bertanya secara langsung sekaligus menimba pengalaman dari para sineas senior Kalimantan Selatan.
Ketua Forum Sineas Banua, Munir Shadikin, mengatakan perjalanan selama satu dekade juga ditandai dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia perfilman di Kalimantan Selatan. Menurutnya, kru lokal saat ini sebenarnya sudah sangat mumpuni dalam menggarap produksi film skala kecil hingga menengah secara mandiri, meski beberapa posisi teknis pada produksi skala besar masih membutuhkan kolaborasi dengan tenaga dari luar daerah.
“Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang seperti ini masih ada. Masih ada orang-orang yang menjaga api perfilman Banua secara swadaya. Harapannya bukan hanya 10 tahun, tapi bisa sampai 100 tahun,” ungkapnya penuh optimisme.
Pembina Forum Sineas Banua, Ade Hidayat, turut menyoroti perkembangan pesat sinema Banua dalam kurun satu dekade terakhir yang dinilainya menunjukkan grafik positif. Hal itu ditandai dengan meningkatnya volume produksi, mulai dari menjamurnya film pendek hingga lahirnya karya film panjang lokal yang berhasil menembus jejaring bioskop nasional.
Meski demikian, Ade menggarisbawahi bahwa industri film di Kalimantan Selatan masih menghadapi tantangan pada rantai distribusi. Hingga saat ini, daerah tersebut belum memiliki bioskop mandiri yang dapat difungsikan sebagai ruang pemutaran dan komersialisasi karya sineas lokal secara berkelanjutan.
“Kalau produksi kita sudah banyak. Yang belum kita punya justru ruang distribusi. Kami berharap suatu saat Kalimantan Selatan memiliki bioskop mandiri sehingga karya sineas lokal punya tempat untuk diputar dan dijual,” kata Ade.
Di samping persoalan ruang pemutaran, Ade juga berharap pemerintah daerah mulai memberikan perhatian yang lebih proporsional terhadap sektor perfilman.
Sebagai salah satu bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif, industri sinema lokal dinilai layak mendapatkan porsi dukungan yang seimbang sebagaimana sektor kuliner, kriya, maupun fesyen.
“Film juga merupakan bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Mudah-mudahan ke depan perhatian pemerintah terhadap perfilman bisa lebih besar,” harapnya.
Sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem perfilman yang telah dibangun selama satu dekade, Forum Sineas Banua pada momentum perayaan tersebut juga resmi mendeklarasikan pembentukan Yayasan Ruang Sinema Banua.
Munir mengungkapkan, perubahan bentuk organisasi menjadi yayasan dipicu oleh kebutuhan akan keberlanjutan program, terutama saat membangun kemitraan dengan pemerintah daerah.
“Selama ini FSB sifatnya lebih cair sebagai komunitas. Dengan adanya yayasan, posisi kami menjadi lebih kuat secara administratif maupun kelembagaan,” ujar Munir.
Ia menjelaskan, pergantian kepemimpinan di tingkat daerah kerap membawa dinamika tersendiri yang berdampak pada kesinambungan program perfilman yang telah dirintis. Oleh karena itu, Yayasan Ruang Sinema Banua dibentuk sebagai benteng dan fondasi utama agar perjuangan membangun ekosistem sinema Banua tidak terhenti di tengah jalan.

